Sumutcyber.com, Medan – Puasa Ramadan diyakini baik bagi kesehatan fisik dan psikis. Sebab, Puasa menjadi salah satu sarana untuk detoksifikasi (membersihkan ‘racun’) jiwa yang selama ini sudah terpapar dengan segala macam bentuk stresor (pemicu stres) sehari-hari.
Dengan berpuasa, berarti melatih untuk mengendalikan diri karena ini merupakan hal penting untuk kesehatan jiwa. “Inti dari puasa adalah pengendalian diri. Orang yang sehat jiwanya berarti mampu mengendalikan diri dari segala rangsangan, baik yang datang dari dalam diri maupun dari luar,” kata Ketua Departemen Psikiatri FK USU Dr. dr. Elmeida Effendy, M.Ked, Sp.KJ (K), Minggu (18/4/2021).
Pengendalian diri di sini, sambungnya, selain mengendalikan diri dari makan, minum, hubungan seksual di saat berpuasa, juga pengendalian diri dalam emosi, mengekspresikan kemarahan, mengendalikan diri untuk tidak mengucapkan kata kata kasar. Misalnya memaki, bergunjing, melatih diri untuk tidak berbicara kecuali yang bermanfaat.
“Puasa dapat melatih memperkuat ego kita dalam pengendalian diri. Pengendalian diri yang baik merupakan ciri dari jiwa sehat. Seharusnya apa yang sudah dilatih selama bulan puasa tetap dilanjutkan di bulan lainnya sehingga meningkatkan kualitas pribadi kita,” imbaunya.
Dia menyebutkan, menurut beberapa studi yang dilakukan di luar negeri, puasa dapat memberikan manfaat. Di antaranya, meningkatkan pengendalian diri, membuat tubuh lebih sehat, bugar dan bersih, menurunkan ketegangan jiwa, kadar lemak darah, tekanan darah serta kadar gula darah, meningkatkan daya konsentrasi dan kepekaan pancaindra, mengendalikan seks, serta membuat tubuh dan pikiran lebih awet muda
“Ibadah yang dilakukan di bulan Ramadan juga membuat kita lebih mampu berempati pada orang yang tidak seberuntung kita, meningkatkan rasa sayang, iba, senasib dan sepenanggungan serta keinginan berbagi dan memberi,” jelasnya. (SC03)
Komentar