Tebing Tinggi – Tim dosen Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat berupa pemberdayaan model teman sebaya untuk penerapan strategi regulasi emosi dalam pencegahan perilaku berisiko dan pemahaman kesehatan reproduksi pada remaja perempuan. Kegiatan ini berlangsung di Aula Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kota Tebing Tinggi, Rabu (13/8/2025).
Kegiatan yang diketuai oleh Dr. dr. Vita Camellia, M.Ked., Sp.KJ (K), bersama anggota anggota Prof. Khairunnisa S.Si., M.Pharm., Ph.D., Apt; Dr. rer. medic., dr. M. Ichwan M.Sc, Sp.KKLP, Subsp.FOMC serta mahasiswa, diikuti oleh 80 siswa dari SMAN 1, SMAN 2, dan SMAN 3 Kota Tebing Tinggi.
Acara dibuka oleh Kepala DP2KB Kota Tebing Tinggi, Hj. Nina Zahara MZ, S.H., M.AP., yang menekankan pentingnya upaya pencegahan perilaku berisiko di kalangan remaja perempuan, seperti seks bebas dan penyalahgunaan narkoba, yang sering berujung pada pernikahan dini.
“Banyak kasus pernikahan dini tidak tercatat secara resmi, karena baru dilaporkan ketika usia sudah mencapai 20 tahun. Hal ini sangat merugikan anak-anak perempuan,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan, DP2KB juga menjalankan program Duta Genre (Generasi Berencana) dan forum Genre yang melibatkan remaja sebagai penggiat penyuluhan untuk kampanye pencegahan seks bebas, pernikahan dini, dan narkoba.
Kegiatan ini turut dihadiri Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Sumut, Ir. Eva Novarisma Purba, yang memberikan edukasi mengenai pencegahan kekerasan seksual serta alur hukum pelaporan kasus pelecehan seksual pada anak dan remaja.
Selanjutnya, pada Jumat (15/8/2025), kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan regulasi emosi kepada 33 peserta dari Forum Genre dan PIKER (Pusat Informasi Konseling Remaja). Para peserta dilatih mengidentifikasi pikiran negatif penyebab kecemasan dan depresi, lalu menggantinya dengan pikiran alternatif yang lebih positif.
Teknik mindfulness juga diperkenalkan untuk membantu remaja mengembangkan kesadaran diri, mengendalikan emosi, serta menurunkan rasa cemas dan depresi. Regulasi emosi menjadi kunci penting dalam menjaga kesehatan mental remaja.
Hal ini diungkapkan para pakar dalam paparan ilmiah “Kesehatan Mental dan Regulasi Emosi” yang disampaikan oleh Dr. dr. Vita Camellia, M.Ked., Sp.K.J.(K), Prof. apt. Khairunnisa, S.Si., M.Pharm., Ph.D., dan Dr. rer. medic. dr. M. Ichwan, M.Sc., Sp.KKLP., Subsp.FOMC.
Menurut Vita, remaja yang sehat secara jiwa adalah mereka yang memiliki dukungan, rasa percaya diri, serta sumber daya untuk berkembang dalam lingkungan yang aman. Namun, kegagalan mengatur emosi bisa berdampak serius, mulai dari depresi, kecemasan, hingga penyalahgunaan narkoba dan seks bebas.
“Emosi positif dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental, sementara emosi negatif yang tidak terkelola bisa memicu berbagai masalah,” jelas dr. Vita.
Strategi pengelolaan emosi yang disarankan antara lain adalah pengendalian perhatian, penilaian ulang situasi (reappraisal), serta praktik mindfulness dan latihan pernapasan dalam. Dengan regulasi emosi yang baik, remaja diharapkan dapat lebih produktif dan terhindar dari gangguan kesehatan mental.
“Strategi regulasi emosi yang baik sangat penting bagi remaja. Emosi positif bisa meningkatkan kesehatan fisik dan mental, sementara kegagalan mengelola emosi negatif dapat memicu depresi, kecemasan, hingga perilaku menyimpang,” jelas dr. Vita Camellia.
Selain pelatihan, tim dosen bersama mahasiswa kedokteran dan program magister FK USU juga membagikan brosur tentang kesehatan reproduksi dan aspek keperawatan kesehatan reproduksi serta penyakit menular seksual bersama Farah Dhiba SS.T, SP.d., M.Kes, untuk menjadi bahan edukasi yang dibawa ke sekolah.
Farah Dhiba menyebutkan, Penyakit Menular Seksual (PMS) masih menjadi salah satu ancaman kesehatan masyarakat yang perlu diwaspadai. Melalui kegiatan edukasi kesehatan, masyarakat kembali diingatkan mengenai bahaya penyakit ini serta langkah-langkah pencegahannya.
PMS dapat ditularkan melalui hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral. Selain itu, penularan juga bisa terjadi akibat penggunaan jarum suntik bersama, prosedur tato dan tindik yang tidak steril, serta dari ibu kepada anak saat kehamilan, persalinan, atau menyusui.
Beberapa penyakit yang termasuk dalam PMS antara lain klamidia, gonore, sifilis, herpes, dan HIV/AIDS. Gejala yang muncul bervariasi, mulai dari keluarnya cairan tidak normal, luka di area genital, ruam pada kulit, hingga penurunan daya tahan tubuh secara drastis pada penderita HIV/AIDS.
Meski demikian, HIV tidak menular melalui aktivitas sehari-hari seperti berpegangan tangan, berenang bersama, atau berbagi alat makan. Hal ini menjadi salah satu poin penting untuk mengurangi stigma terhadap penderita.
Pencegahan PMS dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya tidak melakukan hubungan seksual berisiko, setia pada satu pasangan, menggunakan kondom dengan benar, serta menghindari konsumsi alkohol dan narkoba. Selain itu, vaksinasi HPV dan Hepatitis B juga dianjurkan sebagai upaya perlindungan dini.
Edukasi mengenai PMS dinilai penting agar masyarakat, khususnya remaja, memiliki pengetahuan yang cukup dalam menjaga kesehatan reproduksi. “Penyakit menular seksual sebenarnya bisa dicegah. Kuncinya ada pada kesadaran, informasi yang tepat, dan keberanian untuk mengambil keputusan sehat,” katanya.
Kegiatan ini juga mengikutsertakan mahasiswa kedokteran , program magister kedokteran dan profesi spesialis kedokteran jiwa FK USU. (SC03)




































