Terkesima di Kota Medan dan Sekitarnya, Lanjutan dari Suatu Kemuliaan Bila Berhasil Mencegah Kejahatan

Oleh: Zulfan Effendi Nababan

TERKESIMA di Kota Medan dan sekitarnya adalah sebuah singkatan dari Ternyata Kesetiakawanan Itu Masih Ada di Kota Medan dan sekitarnya.

Ini bisa juga sebuah konsep penanganan/pencegahan kenakalan dan kejahatan di kalangan remaja/pelajar dan generasi muda khususnya yang diambil dari ajaran-ajaran mulia Agama.

Bacaan Lainnya

Semangat cinta kebangsaan dan nilai-nilai luhur adat istiadat serta kebudayaan daerah adalah sebuah konsep yang langsung menyentuh sasaran generasi muda/pelajar yang terintegritas.

Kolaborasi dan mobilisasi untuk menciptakan bonus demografi yang produktif positif yang mempunyai keimanan yang kuat, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkualitas dalam keilmuan dan kebudayaan.

Ada petuah yang mengatakan bila mau mencuci pakaian kotor harus dengan air dan sabun yang bersih lagi wangi.

Maksudnya, bila melaksanakan suatu kegiatan untuk perbaikan, maka harus dengan perlengkapan dan sarana yang bersih dan baik pula, biar hasil yang didapat lebih maksimal.

Begitu pula dengan program pencegahan kejahatan remaja/generasi muda khususnya kejahatan jalanan yang marak saat ini seperti tawuran, premanisme, genk motor dan begal, harus memperbanyak diadakan kegiatan-kegiatan ataupun program-program yang mengandung nilai-nilai kemuliaan dan akhlak yang baik pada kalangan remaja/pelajar atau generasi muda yang berpedoman dari ajaran-ajaran agama, nilai nasionalisme kebangsaan, adat Istiadat dan kebudayaan daerah.

Saat ini, maraknya aksi kenakalan remaja/generasi muda dan kejahatan jalanan, membuat kelompok-kelompak di masyarakat mendirikan pos-pos anti kejahatan jalanan (Anti Begal dan Genk Motor) yang mandiri dan berdiri sendiri. Apakah ini akan membawa perbaikan yang lebih baik dari keadaan yang ada saat ini.?

Dalam bagian Ilmu Psikologi ada namanya sifat egosentris pada setiap Individu dan sifat egoisme ini sangat sulit dikendalikan bagi kelompok orang-orang tertentu. Bahkan bisa menyebabkan efek yang tidak baik.

Contohnya, ada seorang yamg merokok di ruangan publik yang ber AC. Lalu ada orang lain yang mengingatkannya. Orang yang diingatkan bisa lebih galak daripada orang yang mengingatkan.

Lalu orang yang mengingatkan tak mau kalah galaknya dengan orang yang diingatkan dan membalasnya. Alhasil akan membawa ketidaknyamanan bagi orang-orang di sekeliling mereka. Ini salah satu dampak sifat egoisme itu.

Tawuran, premanisme, genk motor dan begal serta kelompok-kelompak di masyarakat yang melakukan aksi anti kenakalan remaja dan anti kejahatan jalanan secara mandiri dan berdiri sendiri tanpa berkolaborasi dgn elemen masyarakat lain seperti petugas keamanan/TNI/Polri, tokoh agama dan tokoh masyarakat dan lain lain adalah kelompok-kelompak yang mempunyai kategori sifat egoisme yang tinggi. Bila antara kelompok ini berjumpa di jalanan, kemungkinan akan menciptakan efek yang tidak baik di sekelilingnya. Semoga itu tidak terjadi demikian. Aamiin.

Sebaiknya, untuk membuat program-program pencegahan anti kenakalan remaja/generasi muda dan anti kejahatan jalanan harus terintegritas, mobilisasi dan berkolaborasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak mempunyai sifat egoisme yang didasarkan kuat pada nilai-nilai mulia agama, nasionalisme kebangsaan, adat istiadat dan kebudayaan ataupun ada sifat egoisme tapi bisa dikendalikan dan diarahkan.

Saya mengutip pernyataan Jenderal Pol (P) Prof Tito Karnavian PhD dalam bukunya Bhayangkara di Bumi Cendrawasih yang berisi pengalaman-pengalaman Jenderal Pol (P) Prof Tito Karnavian PhD selama bertugas di Bumi Cendrawasih Papua.

Salah satu perkataan beliau adalah kalau mau menangkap ikan di air, jangan sampai membuat airnya menjadi keruh.

Maksudnya, bila ingin menyelesaikan suatu masalah, jangan sampai menimbulkan masalah yang baru.

Jadi program-program dan kegiatan pencegahan masalah kenakalan remaja/pelajar atau generasi muda dan kejahatan jalanan berupa tawuran, premanisme, genk motor dan begal, harus dapat mempraktekkan dan mempercontohkan ajaran nilai-nilai yang mulia dan akhlak yang baik.

Oleh karena itu, Ternyata Kesetiakawanan Itu Masih Ada (Terkesima) di Kota Medan dan sekitarnya bisa terwujud seperti yang diharapkan bila semua elemen masyarakat dan pemerintah bersatu.

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Ummahatul Mukminin Batangkuis Deli Serdang Sumut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *