Jakarta – Malam Penganugerahan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2025 menobatkan pasangan dari Provinsi Bali, I Komang Astama Wiguna dan I Gusti Ayu Chintya P., sebagai Terbaik I. Mereka tampil memukau dengan penguasaan bahasa, keanggunan sastra, serta gagasan segar dalam memajukan literasi, sekaligus merepresentasikan generasi muda Bali yang bangga dan cakap berbahasa Indonesia serta bahasa daerah.
Predikat Terbaik II diraih pasangan dari Provinsi Jawa Timur, Akhdan Muhammad Z. W. dan Nursan’ah Almasta G., yang menginspirasi lewat komitmen memasyarakatkan bahasa Indonesia dan memperkuat jejaring kebahasaan nasional. Adapun Terbaik III jatuh kepada pasangan dari DKI Jakarta, Dimas Cahya Ramadhan dan Shabrina Yasmin, yang menonjol dengan ide-ide inovatif mengenai pelestarian bahasa dan sastra.
Selain tiga besar, sejumlah pasangan finalis lain juga menorehkan prestasi membanggakan. Mereka dipandang sebagai garda muda yang akan terus menggelorakan Trigatra Bangun Bahasa, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.
Duta Bahasa, Motor Penggerak Pemartabatan Bahasa
Selama hampir dua dekade, program Duta Bahasa telah melahirkan ribuan generasi muda yang menjadi pelopor pemartabatan bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah, dan penguatan citra bahasa di dunia internasional. Melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa kiprah Duta Bahasa nyata memberikan kontribusi, mulai dari pendokumentasian bahasa daerah, penguatan literasi digital, hingga kampanye internasionalisasi bahasa Indonesia.
Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Imam Budi Utomo, menegaskan bahwa keberhasilan pemartabatan bahasa bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi hasil kolaborasi. Para Duta Bahasa terbukti menjadi contoh bagaimana generasi muda mampu membawa isu kebahasaan ke tengah masyarakat, media sosial, hingga ranah internasional.
Malam Penganugerahan yang Sarat Makna
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menekankan bahwa bahasa adalah cermin peradaban bangsa. Ia berpesan agar para Duta Bahasa menjadi teladan dengan mengamalkan Trigatra Bangun Bahasa.
Sebelum mencapai malam puncak, para finalis mengikuti pembekalan daring (20–23 Agustus 2025) dan penilaian luring (8–12 September 2025). Penilaian mencakup kemampuan berbahasa asing, wicara publik, penyusunan konten, penulisan artikel, penampilan talenta, hingga tes kepribadian dan psikologi.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menambahkan bahwa Pemilihan Duta Bahasa Nasional tidak hanya seremoni, melainkan upaya melahirkan generasi pejuang bahasa. “Dengan kreativitas Duta Bahasa, dunia akan menyapa bahasa Indonesia sebagai bahasa yang hidup, dinamis, dan berdaya saing,” ujarnya.
Tentang Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2025
Ajang tahun ini berlangsung pada 8–13 September 2025 di Jakarta, menghadirkan 62 finalis dari 31 provinsi. Selain kompetisi, para finalis berbagi praktik baik seperti pelestarian bahasa daerah, lokakarya literasi digital, hingga kampanye internasionalisasi bahasa Indonesia.
Melalui proses seleksi yang panjang, enam pemenang utama, empat pemenang harapan, dan dua pemenang favorit dipilih. Seluruh finalis dipandang sebagai wajah muda bangsa yang siap menjadi teladan di ruang publik, pelopor literasi, dan duta bangsa di kancah global. (SC03)





































