Mitra Dapur MBG SPPG Palapa Sampaikan Klarifikasi Terkait Dugaan Keracunan di Sidikalang

Sidikalang – Mitra dapur program Makanan Bergizi Gratis (MBG) SPPG Palapa yang sempat viral dua pekan lalu pasca dugaan keracunan makanan di dua sekolah swasta di Sidikalang memberikan klarifikasi kepada publik.

Keterangan tersebut disampaikan dalam temu pers pada Jumat (27/2/2026) di Jalan Palapa. Mitra Dapur, Delphi M. Ujung, didampingi perwakilan yayasan, Pana Akhbar Simatupang, memaparkan kronologi kejadian serta alasan baru menyampaikan penjelasan setelah dua minggu peristiwa berlangsung.

Dalam keterangannya, Delphi M. Ujung menjelaskan, saat kejadian dirinya sedang berada di luar kota untuk menjalani pengobatan rutin. Meski demikian, ia mengaku langsung menghubungi pihak rumah sakit agar para siswa yang terdampak segera mendapatkan penanganan medis.

“Alasan kami baru memberikan penjelasan hari ini karena situasi sudah lebih kondusif. Dua minggu ini kami menunggu agar emosi dan berbagai spekulasi di tengah masyarakat mulai mereda,” ujarnya.

Struktur dan Proses Operasional

Delphi menerangkan, di SPPG Palapa terdapat tiga staf dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang ditempatkan, yakni Kepala SPPG, akuntan, dan ahli gizi. Sementara dari pihak mitra dapur terdapat 47 orang petugas yang menangani seluruh proses, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, pemorsian, hingga pendistribusian ke sekolah.

Pada hari kejadian, menurutnya, tidak ada hal yang janggal dalam proses produksi. Menu yang disiapkan saat itu adalah gulai ayam. Para relawan (juru masak) mulai memasak sejak pukul 02.00 WIB dini hari, dan pemorsian biasanya dimulai sekitar pukul 05.30 WIB.

Untuk SMK HKBP, pengantaran MBG dilakukan paling cepat pukul 11.00 WIB dan paling lambat pukul 12.30 WIB. Saat itu, sebanyak 736 porsi diantarkan dan diterima dengan baik oleh pihak sekolah. Sekitar pukul 13.30 WIB, ompreng (wadah makanan) dijemput kembali tanpa adanya laporan masalah.

“Kejadian justru terjadi keesokan harinya, pada Selasa, hingga akhirnya menjadi viral dan berdampak pada penutupan operasional SPPG selama dua minggu terakhir,” jelasnya.

Secara keseluruhan, SPPG Palapa memproduksi sebanyak 3.276 porsi per hari yang didistribusikan secara berjenjang mulai dari tingkat TK, SD hingga SLTA.

Permohonan Maaf dan Evaluasi

Dalam kesempatan tersebut, Delphi menegaskan pihaknya tidak bermaksud menyalahkan pihak manapun dan mengaku sangat terpukul atas peristiwa tersebut.

“Kami meminta maaf kepada orang tua siswa, anak-anak, masyarakat, pemerintah, dan aparat yang terdampak serta terganggu atas kejadian ini. Jika masih diberi kepercayaan, kami berkomitmen memperketat pengawasan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, akibat penutupan operasional, ribuan siswa untuk sementara tidak lagi menerima layanan MBG dari SPPG Palapa.

Standar Kebersihan dan Pengawasan

Delphi juga menjelaskan bahwa sejak berdiri, dapur SPPG Palapa menerapkan pengawasan ketat terhadap kualitas bahan, proses pengolahan, hingga pembagian porsi. Kebersihan dan sanitasi dilakukan setiap hari, dengan pembersihan terpadu secara menyeluruh sekali dalam seminggu.

Untuk saluran air, pihaknya rutin berkoordinasi dengan petugas pemadam kebakaran apabila diperlukan penyiraman atau pembersihan saluran. Sementara pengangkutan sampah dilakukan setiap hari oleh armada Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Terkait tenaga relawan, seluruh petugas disebut telah memiliki sertifikat penjamah makanan dari Kementerian Kesehatan serta menjalani pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Huta Rakyat.

Di akhir pernyataannya, Delphi menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki niat buruk dalam menjalankan program tersebut.

“Dari sisi ekonomi, tidak mungkin kami merusak usaha yang baru berdiri. Apalagi ini merupakan program kebanggaan Presiden Prabowo Subianto yang harus kita sukseskan bersama,” tutupnya. (SC-Romi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *