Batubara – Pakaian yang dihasilkan dari sablon bukan hanya sekadar busana, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mengekspresikan jati diri budaya setempat serta menjadi media ekspresi kreatif masyarakat. Dalam konteks pengembangan budaya, sablon tidak hanya berfungsi sebagai unsur estetika, melainkan juga sebagai sarana melestarikan dan menyebarluaskan nilai-nilai kearifan lokal.
Sablon dapat menjadi wadah pengembangan budaya melalui aspek desain, produksi, hingga dampak sosial dan ekonomi. Melalui pembelajaran sablon, motif-motif budaya lokal bisa diintegrasikan ke dalam desain pakaian dan produk kreatif lainnya. Hal ini sekaligus menjadi strategi pewarisan nilai budaya kepada generasi muda.
Rumah Vokasi Juara, salah satu inisiasi dari Rumah Zakat di Desa Suka Maju, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, turut mengembangkan gagasan tersebut. Melalui program ini, para peserta didik dilatih untuk menjadikan desain sablon sebagai media penyampai nilai budaya, khususnya budaya Melayu.
Motif khas Melayu mulai dari gambar tengkuluk hingga kutipan-kutipan bernuansa Melayu kini tengah dirancang oleh para peserta. Setelah desain selesai, karya tersebut dituangkan ke dalam cetakan screen untuk kemudian diaplikasikan ke kain atau pakaian.
“Ini sudah kami pertimbangkan bagaimana kelas vokasi yang kami inisiasi buat para remaja di Desa Suka Maju bisa menjadi salah satu penyampai nilai estetik budaya sekaligus memperkenalkan kearifan lokal yang tertuang di pakaian. Harapannya, produk ini juga bisa menjadi gift atau cenderamata yang menarik bagi turis maupun pengunjung yang berwisata ke wilayah Batu Bara,” ungkap Ahmad Fauzi, Relawan Inspirasi Rumah Zakat. (SC02)





































