Pemulihan Pascabanjir Aceh Tamiang Belum Tuntas, YAICI Kembali Salurkan Bantuan Gizi dan Trauma Healing

Aceh Tamiang – Lima bulan setelah banjir melanda Kabupaten Aceh Tamiang, proses pemulihan di sejumlah wilayah terdampak belum sepenuhnya tuntas. Persoalan gizi, layanan kesehatan, hingga pemulihan psikologis anak masih menjadi tantangan serius bagi warga.

Kondisi tersebut mendorong Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) berkolaborasi dengan Rangkul Foundation yang diinisiasi Zaskia Adya Mecca serta Pimpinan Pusat Majelis Kesehatan Aisyiyah menggelar kegiatan trauma healing dan penyaluran bantuan gizi di Desa Batang Ara, Kecamatan Bandar Pusaka, Minggu (26/4/2026).

Kegiatan itu menyasar kelompok rentan, terutama anak-anak, balita, dan ibu hamil yang dinilai paling terdampak dalam fase pemulihan pascabencana.

Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudistira, menjelaskan, kegiatan ini merupakan lanjutan dari program sebelumnya di wilayah terdampak lain di Aceh Tamiang.

Dalam program ini, kata Satria, pihaknya menggandeng Rangkul Foundation menjadi donatur utama, sementara Aisyiyah berperan sebagai fasilitator berbasis jaringan hingga tingkat akar rumput. Kegiatan meliputi trauma healing melalui permainan edukatif bagi anak-anak, serta penyuluhan gizi bagi ibu-ibu.

“Kami ingin pemulihan ini tidak hanya bantuan, tapi juga kesadaran. Misalnya, tidak terus-menerus mengonsumsi mi instan dan memahami kebutuhan gizi anak,” ujarnya.

Selain edukasi, bantuan yang diberikan mencakup paket gizi balita, susu, makanan bergizi, serta sembako bagi keluarga, termasuk ibu hamil.

Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudistira

Pimpinan Pusat Aisyiyah Majelis Kesehatan, Hirfa Turrahmi mengatakan fase tanggap darurat telah berlalu, namun persoalan kualitas konsumsi masyarakat kini menjadi perhatian utama.

“Ketika bencana terjadi, fokus kami memang pada bantuan makanan. Namun sekarang kami mengevaluasi bagaimana pola makan masyarakat pascabanjir, karena kondisi ini sudah berjalan lima bulan,” kata Hirfa.

Ia menyoroti masih adanya ketergantungan masyarakat terhadap makanan instan dari bantuan sebelumnya. Karena itu, edukasi difokuskan pada penerapan pola makan bergizi seimbang melalui konsep Isi Piringku serta pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak.

Kental Manis Bukan Susu

Hirfa Turrahmi

Hirfa juga menegaskan pentingnya pemahaman yang benar terkait konsumsi kental manis bagi anak. “Kami meluruskan bahwa kental manis itu bukan susu dan tidak boleh dikonsumsi terus-menerus, terutama bagi balita,” ujarnya.

Sementara itu, penyuluh kesehatan Puskesmas Sekerak, Ersyad, menyebut layanan kesehatan di wilayah terdampak masih belum pulih sepenuhnya.

Ia mengatakan kebutuhan air bersih, alat kesehatan ibu hamil seperti Doppler dan USG, hingga pemulihan fasilitas kesehatan masih menjadi persoalan mendesak.

Kepala Desa Batang Ara, Amril mengaku bersyukur atas bantuan yang diberikan kepada warganya di tengah kondisi yang masih sulit. “Pertama kami sangat bersyukur atas bantuan ini. Harapan kami masyarakat bisa lebih cepat pulih dari kondisi pascabanjir,” katanya.

Amril menjelaskan, persoalan gizi anak masih menjadi perhatian karena banyak keluarga saat ini hanya mengonsumsi makanan yang tersedia. “Untuk anak-anak sekarang mereka makan apa yang ada saja,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi ekonomi warga yang belum stabil karena mayoritas masyarakat menggantungkan penghasilan dari perkebunan sawit yang rusak akibat banjir. “Penghasilan masyarakat dari sawit. Banyak tanaman yang mati, busuk, dan tumbang akibat banjir,” katanya.

Menurut dia, dampak banjir juga masih dirasakan di sektor pendidikan. Meski kegiatan belajar mengajar telah kembali berjalan, fasilitas sekolah belum pulih sepenuhnya.

“Sekolah sudah aktif, tapi sampai sekarang belum ada kursi untuk belajar. Anak-anak masih duduk di lantai karena fasilitas sekolah rusak semua terkena bencana,” ujarnya.

Data pemerintah desa mencatat sebanyak 177 kepala keluarga yang tersebar di dua dusun terdampak banjir, dengan total sekitar 600 jiwa yang masih membutuhkan perhatian dalam proses pemulihan. (SC03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *