Pemkab Toba Matangkan Kesiapan Penanganan Sampah melalui Program LSDP

Toba – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Toba terus berupaya memaksimalkan penanganan persoalan persampahan melalui sistem pengelolaan yang komprehensif dan terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Rapat Konsolidasi Kesiapan Pemkab Toba untuk Pelaksanaan Program Local Service Delivery Improvement Project (LSDP) yang berlangsung di Balige, Jumat (4/9/2026).

Dalam arahannya, Bupati Toba Effendi Sintong P. Napitupulu mengatakan, Kabupaten Toba saat ini menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Volume timbulan sampah mencapai 100 hingga 120 ton per hari. Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 45 persen yang dapat diangkut dan dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

“Pengelolaan di bagian hilir saat ini masih mengandalkan metode pembuangan terbuka tanpa pengolahan lanjutan. Sementara itu, sekitar 55 persen wilayah Toba belum terjangkau layanan pengangkutan akibat keterbatasan sarana, prasarana, dan sumber daya,” ujar Bupati.

Menyadari keterbatasan kemampuan fiskal daerah untuk menangani persoalan tersebut secara mandiri, Pemkab Toba terus melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan dukungan pemerintah pusat.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Melalui sinergi Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah dan Bappenas, Kabupaten Toba ditetapkan sebagai salah satu lokasi percontohan atau pilot project penerima program strategis LSDP.

Sebagai bentuk kesiapan daerah dalam menerima program nasional tersebut, Pemkab Toba telah melakukan perluasan lahan operasional TPA. Dari sebelumnya seluas 2,5 hektare, kini luas lahan telah diperluas menjadi 3,4 hektare.

Selain itu, sejumlah dokumen kelayakan teknis juga telah diselesaikan, meliputi Feasibility Study (FS), Detail Engineering Design (DED), Rencana Induk Pengelolaan Sampah (RIPS), Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK), hingga perumusan Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama dengan calon offtaker.

Kesiapan eksekutif tersebut turut mendapat dukungan dari legislatif. DPRD Kabupaten Toba telah memberikan komitmen untuk menyediakan anggaran operasional persampahan secara berkesinambungan.

Penguatan kelembagaan juga tengah dimatangkan bersama DPRD melalui rencana pembentukan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) khusus persampahan. Pembentukan UPTD ini diharapkan dapat menjamin keberlanjutan pengelolaan persampahan di Kabupaten Toba.

Sebelumnya, tim penilai LSDP dari pemerintah pusat telah melakukan kunjungan lapangan ke TPA Pintu Bosi di Kecamatan Laguboti. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menilai secara langsung kelayakan lokasi yang diproyeksikan sebagai sentra pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).

Upaya pembenahan pengelolaan sampah di Toba juga diperkuat melalui kerja sama internasional dengan melibatkan Pemerintah Korea Selatan, melalui tim dari Korea Environmental Industry & Technology Institute (KEITI).

Pertemuan dan diskusi mengenai pengelolaan sampah ramah lingkungan tersebut berlangsung di Balai Data Lantai IV, Kantor Bupati Toba. Pembahasan bersama tim ahli KEITI difokuskan pada rencana kerja sama alih teknologi (transfer of knowledge) yang modern, efisien, dan ekonomis.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk mempercepat pembangunan TPST dengan mengadopsi sistem 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Produk akhir pengolahan sampah nantinya ditargetkan dapat diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), yakni bahan bakar alternatif yang memiliki nilai ekonomi dan dihasilkan dari residu sampah.

Tidak hanya berdiskusi di ruang rapat, delegasi KEITI juga melakukan peninjauan langsung ke lapangan untuk memetakan kondisi eksisting. Tim ahli KEITI mengunjungi fasilitas pengelolaan air limbah yang berada di depan Puskesmas Tandang Buhit, kemudian melanjutkan observasi ke area TPA untuk memastikan kesesuaian teknologi yang nantinya diterapkan di Kabupaten Toba.

Menutup arahannya, Bupati Toba menegaskan bahwa pembenahan infrastruktur fisik dan penambahan armada hanyalah sebagian dari solusi persoalan sampah. Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan seluruh pihak.

“Kunci utama keberlanjutan program ini terletak pada sinergi lintas sektor dan perubahan perilaku masyarakat. Oleh karena itu, Pemkab Toba mengimbau seluruh lapisan masyarakat mulai membiasakan diri mengurangi dan memilah sampah dari sumbernya, yakni rumah tangga,” imbuhnya.

Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung terwujudnya Kabupaten Toba yang lebih bersih, sehat, maju, dan berkelanjutan. (SC-JT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *