Jakarta – Pemerintah terus memperkuat arah kebijakan perekonomian nasional untuk menjaga stabilitas sekaligus meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian. Berbagai tekanan eksternal, mulai dari fragmentasi perdagangan global hingga perlambatan ekonomi dunia, menuntut kebijakan yang adaptif, konsisten, dan berorientasi jangka menengah–panjang agar momentum pertumbuhan nasional tetap terjaga.
“Saya rasa di tengah ketidakpastian global yang berasal dari perlambatan ekonomi dan peningkatan tensi geopolitik, ekonomi Indonesia tetap resilien dengan tingkat risiko resesi relatif rendah, berdasarkan Bloomberg, dibandingkan dengan AS, China, dan Jepang,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyampaikan keynote speech dalam forum IBC Business Outlook 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesian Business Council (IBC) dilansir dari laman ekon.go.id.
Dalam paparannya, Menko Airlangga menyampaikan bahwa selama tujuh tahun terakhir, Indonesia secara konsisten mencatatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5%, yang mencerminkan akumulasi pertumbuhan ekonomi nasional hingga sekitar 35%. Stabilitas makroekonomi tetap terjaga dengan inflasi Desember 2025 berada pada level 2,92%. Kinerja pasar keuangan menunjukkan tren positif dengan indeks saham yang terus mencetak rekor, nilai tukar rupiah yang relatif stabil, serta aktivitas sektor riil yang tetap ekspansif, tercermin dari PMI manufaktur sebesar 51,2 dan indeks kepercayaan konsumen yang meningkat ke level 123,5. Posisi eksternal Indonesia juga tetap solid, ditopang surplus neraca perdagangan serta cadangan devisa yang mencapai USD 156,1 miliar.
Penangkapan Presiden Venezuela Dinilai Ancam Kedaulatan Negara dan Tata Dunia Internasional
Dari sisi pembiayaan dan investasi, pertumbuhan kredit perbankan tetap terjaga mendekati 8%, sementara realisasi penanaman modal asing (FDI) menunjukkan tren peningkatan. Kondisi tersebut mencerminkan kepercayaan global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia dan prospek pertumbuhan jangka panjang.
Menko Airlangga menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen kebijakan yang kredibel dan bertanggung jawab. Defisit APBN 2025 dijaga di bawah 3%, dengan rasio utang yang tetap terkendali. Pemerintah juga telah menyiapkan paket stimulus ekonomi sepanjang 2025 dengan nilai total Rp110,7 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Memasuki tahun 2026, Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4% yang didukung oleh penguatan sektor riil, paket kebijakan ekonomi, serta 8 program prioritas nasional. Fokus utama diarahkan pada penguatan ketahanan pangan, ketahanan energi, hingga pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang diharapkan mampu menciptakan jutaan lapangan kerja baru setiap tahunnya.
Selain itu, APBN juga diarahkan untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia melalui program pendidikan, perlindungan sosial, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja. Pemerintah menyiapkan berbagai program peningkatan produktivitas, termasuk program magang bagi lulusan baru, pelatihan tenaga kerja, serta fasilitasi penempatan tenaga kerja ke luar negeri di sektor-sektor strategis.
Di tengah percepatan transformasi digital, Indonesia juga terus mendorong penguatan ekonomi digital kawasan melalui inisiatif ASEAN Digital Economy Framework Agreement. Pemerintah memperluas sistem pembayaran digital QRIS secara regional dan internasional sebagai bagian dari upaya memperkuat inklusi keuangan dan literasi digital masyarakat.
Selain itu, Pemerintah juga terus memperbaiki iklim investasi melalui penyederhanaan regulasi dan percepatan pelaksanaan program strategis nasional. Sejumlah sektor padat karya, seperti industri tekstil, elektronik, dan manufaktur berorientasi ekspor, menjadi perhatian utama untuk menjaga daya saing dan melindungi jutaan tenaga kerja nasional di tengah dinamika perdagangan global.
Menutup paparannya, Menko Airlangga mengajak seluruh pelaku usaha dan pemangku kepentingan untuk tetap optimistis terhadap prospek perekonomian Indonesia ke depan. Dengan fundamental ekonomi yang kuat, kebijakan fiskal yang prudent, serta agenda reformasi struktural yang berkelanjutan, Indonesia diyakini mampu menjaga stabilitas dan memperkuat pertumbuhan ekonomi ke depan.
“Jadi, menghadapi periode mendatang, saya pikir kita harus optimis, akan ada banyak berita baik. Dan saya yakin, tren global, termasuk IMF, juga optimis pada ekonomi Indonesia,” pungkas Menko Airlangga.
Turut Hadir dalam acara tersebut antara lain yakni Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto, CEO of Indonesian Business Council Sofyan A Djalil, Chairman of IBC Board of Trustee Arsjad Rasjid, Expert Panel IBC Agus Martowardjojo , Tim Asistensi Menko Perekonomian Raden Pardede, serta para perwakilan kedutaan besar negara sahabat. (SC03)






















