Pasca Kericuhan, Ratusan Personel Brimob Disiagakan di Dairi, Pendamping Massa: Warga Tidak Ada Niat Lakukan Kekerasan

Dairi – Ratusan personel dari Satuan Sabhara dan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) disiagakan di Mapolres Dairi pasca kericuhan yang terjadi pada Rabu (12/11/2025).

Kasi Humas Polres Dairi, Ipda Ringkon Manik, Kamis (13/11/2025), membenarkan adanya penambahan kekuatan personel dari berbagai satuan guna menjaga stabilitas keamanan di wilayah tersebut.

“Sebanyak 98 personel Sabhara Polda Sumut, 100 personel Brimob BKO, dan 37 personel dari Polres Pakpak Bharat telah dikerahkan. Sejumlah kendaraan taktis (rantis) dan unit water canon juga disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan aksi susulan,” jelas Ringkon.

Selain itu, 40 personel Polres Dairi dan 98 personel Brimob juga ditempatkan di Desa Parbuluan VI untuk memperkuat pengamanan di lokasi yang menjadi asal massa aksi.

“Langkah ini merupakan bentuk antisipasi dan pemulihan keamanan agar situasi tetap kondusif,” tambahnya.

Sebelumnya, aksi ratusan warga Desa Parbuluan VI, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi, di halaman Mapolres Dairi berujung ricuh. Akibat insiden tersebut, 10 petugas kepolisian luka-luka, sementara 33 warga diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Kericuhan bermula ketika massa menuntut pembebasan Ketua PETABAL (Pejuang Tani Bersama Alam) , PS, yang ditangkap oleh Satreskrim Polres Dairi pada Rabu pagi sekitar pukul 07.30 WIB. Situasi sempat memanas ketika polisi memberikan penjelasan, namun massa mulai melempari petugas dengan batu dan botol. Polisi pun melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk mengendalikan keadaan.

Ketua Bidang Advokasi PETRASA, Duat Sihombing, yang turut mendampingi massa, menegaskan bahwa aksi tersebut tidak bertujuan melakukan kekerasan.

“Aksi tadi dilatarbelakangi karena ada informasi Pak PS ditangkap saat mengantar anaknya sekolah. Teman-teman hanya ingin memastikan kondisinya,” ujarnya.

Menurut Duat, tindakan anarkis yang terjadi merupakan luapan emosi masyarakat. “Sebenarnya tidak ada niat melakukan aksi keras. Mungkin itu bagian dari akumulasi kemarahan masyarakat selama ini,” ungkapnya.

Duat juga berharap pihak kepolisian dan Kapolri dapat melihat persoalan ini secara objektif. Ia menyebut, masyarakat Parbuluan VI selama ini menghadapi kesulitan akibat aktivitas PT Gunung Raya Utama Timber (GRUTI) di wilayah mereka. “Masyarakat ini korban dari kebijakan yang menyebabkan mereka sulit mendapatkan air setelah adanya pembukaan lahan konsesi oleh PT GRUTI,” jelasnya.

Pihak PETRASA telah menyiapkan penasihat hukum untuk mendampingi para anggota PETABAL yang kini diamankan oleh kepolisian. (SC-Romi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *