BNPB Imbau Mitigasi Cuaca Ekstrem dan Kekeringan: Waspadai Banjir, Longsor, dan Puting Beliung

Jakarta – Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Abdul Muhari, Ph.D, mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk waspada dan melakukan mitigasi menyeluruh menghadapi potensi bencana hidrometeorologi dan kekeringan yang terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

“Banjir, tanah longsor, dan angin kencang masih mendominasi kejadian bencana. Di sisi lain, Indonesia juga sudah memasuki musim kemarau, sehingga potensi kekeringan tak bisa diabaikan,” kata Abdul Muhari dalam siaran pers BNPB, Senin (30/6/2025).

Ia menekankan pentingnya langkah antisipatif seperti membersihkan saluran drainase, memangkas dahan pohon lapuk, menyiapkan area penampungan air, dan menyusun rencana evakuasi darurat. Untuk menghadapi kekeringan, BNPB mengajak masyarakat bijak mengelola sumber daya air, menanam pohon, dan membuat embung untuk menampung air hujan.

Imbauan ini disampaikan menyusul rangkaian bencana yang terjadi dalam sepekan terakhir. Di Tasikmalaya, Jawa Barat, bencana tanah longsor terjadi di Desa Cikubang, Kecamatan Taraju, Sabtu (28/6), yang mengakibatkan dua rumah terdampak dan satu korban jiwa. Pada keesokan harinya, angin kencang melanda Kecamatan Cisayong, menumbangkan pohon hingga menimpa mobil dan menewaskan satu orang.

BPBD Kabupaten Tasikmalaya telah melakukan evakuasi dan perbaikan Tembok Penahan Tanah (TPT), serta pemangkasan pohon-pohon besar untuk mencegah insiden serupa.

Sementara itu, di Karawang, sebanyak 1.000 jiwa dari 300 KK di Desa Margamulya, Kecamatan Telukjambe Barat, mengalami krisis air bersih akibat kekeringan. BPBD setempat menyalurkan air bersih menggunakan satu unit tangki berkapasitas 5.000 liter.

Di Deli Serdang, Sumatera Utara, hujan deras dan angin puting beliung pada Sabtu (28/6) merusak ratusan rumah di 26 desa. BPBD mendata sebanyak 113 rumah rusak ringan, 79 rumah rusak sedang, dan 40 rumah rusak berat. Bantuan sembako telah disalurkan, dan warga bergotong royong memperbaiki rumah.

Tak hanya itu, banjir juga melanda Kelurahan Lepo-Lepo, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, dengan 402 warga terpaksa mengungsi. Hingga Minggu (29/6), air belum sepenuhnya surut dan hujan masih turun dengan intensitas ringan hingga sedang.

Dengan kondisi cuaca yang masih labil, BNPB mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan dan koordinasi antarinstansi serta partisipasi aktif masyarakat untuk meminimalisir dampak bencana. (SC03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *