Sofyan Tan Ingin ST Bhinneka Jadi Rumah untuk Mengubah Masa Depan

Medan – Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), dr. Sofyan Tan, menegaskan komitmennya menjadikan Universitas Satya Terra (ST) Bhinneka bukan sekadar tempat bekerja dan mengajar, melainkan rumah bersama yang memberikan rasa aman, nyaman, kesejahteraan, serta masa depan bagi seluruh keluarga besar kampus.

Pesan tersebut disampaikan Sofyan Tan dalam Rapat Tahunan Universitas Satya Terra Bhinneka yang digelar di Auditorium Bung Karno YPSIM, Medan, Sabtu (5/9).

Di hadapan para dosen dan tenaga kependidikan, Sofyan Tan mengajak seluruh keluarga besar ST Bhinneka membangun budaya disiplin, integritas, saling peduli, serta memahami kultur kampus yang sejak awal dibangun atas semangat keberagaman dan inklusivitas.

“Kalau Bapak/Ibu memberikan hatinya sepenuhnya kepada Satya Terra Bhinneka, maka saya juga akan memberikan sepenuhnya kepada Bapak/Ibu dalam hal kesejahteraan. Jangan ragukan hal itu,” tegasnya.

Menurut Sofyan Tan, ST Bhinneka sengaja memberikan ruang yang besar kepada anak-anak muda dan lulusan baru untuk ikut membangun universitas. Ia ingin mereka tumbuh bersama kampus, bukan sekadar datang mengajar kemudian pulang.

“Saya ingin melukis di kertas yang masih bersih,” ujar Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Ia menilai, dosen muda harus diberikan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi, melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor dan profesor, sekaligus memperoleh kehidupan yang layak bersama keluarganya.

Bahkan, Sofyan Tan menyampaikan komitmen bahwa dosen yang mengabdi dan bekerja dengan baik harus memiliki masa depan yang jelas. Setelah lima tahun mengabdi, yayasan menyiapkan skema dana pensiun melalui Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

“Kalau kita sudah berkeluarga, yang kita pikirkan adalah bagaimana rumah itu dapur ngebul-ngebul, anak-anak kita bisa sekolah dan lebih pintar daripada kita,” katanya.

Bagi Sofyan Tan, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya diukur dari kemegahan gedung atau jumlah mahasiswa, tetapi dari seberapa banyak kehidupan manusia yang mampu diubah melalui pendidikan.

Karena itu, ia meminta para dosen tidak terjebak pada orientasi materi. Dosen, kata dia, harus menjadi teladan, mampu menginspirasi mahasiswa, menguasai teknologi, gemar membaca dan menulis, serta menghasilkan lulusan yang hebat.

“Kalau kamu ingin sukses, lakukan sesuatu yang tidak dilakukan orang lain,” ujarnya.

Berangkat dari Pengalaman Hidup

Semangat tersebut, kata Sofyan Tan, berakar dari pengalaman hidupnya sendiri. Ia mengaku lahir dari keluarga miskin dan tumbuh di lingkungan yang pernah mengalami konflik sosial. Pengalaman itu kemudian membentuk keyakinannya bahwa pendidikan harus menjadi jalan bagi seseorang untuk bertahan sekaligus mengubah kehidupannya.

“Tujuan saya membangun sekolah ini adalah balas dendam. Karena saya miskin nggak bisa sekolah, saya bikin sekolah untuk orang miskin,” ungkapnya.

Dari pengalaman tersebut, YPSIM berkembang selama puluhan tahun dan melahirkan ST Bhinneka sebagai bagian dari cita-cita membangun pendidikan yang berakar pada keberagaman.

Kini, YPSIM telah menaungi tujuh lembaga pendidikan dan layanan, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, serta klinik. Ke depan, yayasan menargetkan hadirnya lembaga pendidikan khusus bagi penyandang disabilitas sebagai unit kedelapan.

Sofyan Tan menegaskan, keberagaman yang diperjuangkan bukan hanya menyangkut suku, agama, ras dan gender, tetapi juga keberadaan penyandang disabilitas.

“Mereka bukan sampah. Mereka adalah berlian kalau kita bikin sesuatu yang baik,” katanya.

Karena itu, ST Bhinneka juga diarahkan menjadi kampus inklusif yang mampu melahirkan guru-guru yang memahami dan menerima keberagaman, termasuk melalui program studi pendidikan yang dimiliki universitas tersebut.

Ia berharap seluruh dosen dan tenaga kependidikan tidak berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, semua harus berada dalam satu perahu dan saling mendukung.

“Kalau kita semuanya care, peduli, saling membantu, maka selesai. Solid di dalam,” katanya.

Sofyan Tan menegaskan, pertumbuhan ST Bhinneka yang masih relatif muda harus dibangun dengan fondasi pengalaman YPSIM selama puluhan tahun. Gedung, lingkungan kampus, riset, kesejahteraan dosen hingga beasiswa, menurutnya, harus menjadi bagian dari satu ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.

“Setiap yang kita buat harus berbuah dan berhasil,” ujarnya.

Pada akhirnya, Sofyan Tan ingin ST Bhinneka menjadi kampus yang bukan hanya mencetak sarjana, tetapi juga mampu mengubah nasib manusia. Mulai dari dosen yang memiliki masa depan, mahasiswa yang memperoleh kesempatan, hingga mereka yang selama ini dianggap kurang mampu atau berbeda, namun tetap memiliki kesempatan untuk menunjukkan kelebihannya.

Hadir dalam kegiatan tersebut Anggota Dewan Pembina YPSIM Felix Iskandar Harjatanaya, Ketua YPSIM Finche Kosmanto, Rektor ST Bhinneka Bobby Christian Halim, wakil rektor, pimpinan fakultas, dosen, serta tenaga kependidikan. (SC03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *