RS Columbia Asia Medan Bahas Manfaat DSA, Teknologi untuk Tentukan Penanganan Stroke

Medan – Digital Subtraction Angiography (DSA) menjadi salah satu teknologi yang dapat membantu dokter melihat kondisi pembuluh darah otak secara lebih detail, sekaligus mendukung penentuan terapi pada pasien stroke atau gangguan pembuluh darah.

Hal itu disampaikan dr. Steven Tandean, M.Ked (Neurosurg), Sp.BS, dalam Media Gathering Columbia Asia Hospital Medan bertajuk “Dari Diagnosis hingga Tindakan: Mengenal Manfaat DSA”, Rabu (26/8/2026).

Menurut dr. Steven, DSA memungkinkan dokter memetakan pembuluh darah dari area leher hingga otak dengan lebih jelas. Pemeriksaan ini dapat membantu melihat aliran darah, lokasi sumbatan, penyempitan, maupun kelainan pembuluh darah lainnya.

“Dengan DSA, kita bisa melihat pembuluh darah dari leher ke atas secara lebih detail, termasuk bagaimana aliran darahnya dan ke mana aliran tersebut bergerak. Dari situ kita bisa memahami lokasi serta karakteristik gangguan pembuluh darah dan menentukan terapi selanjutnya,” jelas dr. Steven.

DSA Bukan “Brain Wash”

Dalam kesempatan tersebut, dr. Steven juga meluruskan pemahaman masyarakat mengenai DSA yang selama ini pernah dikaitkan dengan istilah “brain wash” atau cuci otak, istilah yang sempat dipopulerkan oleh dr. Terawan Agus Putranto, mantan Menteri Kesehatan RI.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa DSA pada dasarnya merupakan teknologi/prosedur untuk melihat dan mengevaluasi pembuluh darah. Pemeriksaan standar ini juga dilakukan di sejumlah negara.

“DSA itu kita gunakan untuk melihat pembuluh darah. Kita bisa melihat pembuluh darah dan aliran darahnya secara detail,” jelas dr. Steven.

Ia mengatakan, dari pemeriksaan tersebut dokter dapat mengetahui apakah terdapat penyumbatan, penyempitan, pelebaran pembuluh darah, maupun kelainan lainnya.

“Jadi tujuan DSA adalah untuk melihat kondisi pembuluh darah dan menentukan terapi selanjutnya. Kalau ditemukan masalah tertentu dan pasien memenuhi indikasi, dari prosedur tersebut bisa dilanjutkan dengan tindakan intervensi seperti trumbektomi” katanya.

Dalam kasus stroke akibat penyumbatan pembuluh darah atau stroke iskemik, DSA juga dapat mendukung tindakan intervensi tertentu, salah satunya trombektomi.

Trombektomi merupakan prosedur untuk mengambil bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah otak pada pasien yang memenuhi kriteria medis.

“Waktu sangat penting pada stroke karena penyumbatan maupun pendarahan pada pembuluh darah. Pada pasien yang memenuhi kriteria penyumbatan pembuluh darah, golden time itu sekitar 4,5 jam sejak gejala pertama muncul. Semakin cepat pasien mendapatkan penanganan, semakin minimal kecacatan terhadap pasien,” ujar dr. Steven.

Menurut dr. Steven, kecepatan penanganan pada pasien stroke sangat penting karena dapat berpengaruh terhadap kesembuhan pasien.

Kenali Gejala Stroke

Di samping teknologi penanganan, dr. Steven mengingatkan masyarakat agar mampu mengenali gejala stroke sejak awal. Salah satu cara sederhana adalah mengingat B.E. F.A.S.T.

B (Balance), kehilangan keseimbangan atau koordinasi secara tiba-tiba.

E (Eyes), gangguan penglihatan yang muncul secara tiba-tiba.

F (Face), salah satu sisi wajah turun atau mencong.

A (Arms), salah satu lengan tiba-tiba lemah atau sulit diangkat.

S (Speech), bicara pelo, sulit berbicara, atau sulit memahami pembicaraan.

T (Time), segera mencari pertolongan medis ketika salah satu gejala tersebut muncul secara tiba-tiba.

“Stroke adalah kondisi yang membutuhkan respons cepat. Gejala seperti wajah mencong, kelemahan pada salah satu sisi tubuh atau gangguan bicara harus segera diperiksakan. Jangan menunggu gejala membaik sendiri,” tegasnya.

Kendalikan Faktor Risiko

Lebih jauh, dr. Steven mengatakan stroke dapat dipengaruhi berbagai faktor. Sebagian faktor tidak dapat diubah, seperti usia, jenis kelamin dan faktor genetik. Namun, terdapat banyak faktor risiko yang dapat dikendalikan.

Di antaranya tekanan darah tinggi, kolesterol, kadar gula darah, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, pola makan dengan asupan garam tinggi serta kurangnya aktivitas fisik.

“Gaya hidup sekarang berubah. Aktivitas fisik berkurang, sementara konsumsi makanan dan minuman meningkat. Faktor-faktor seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, gula darah, alkohol dan garam yang tinggi perlu dikendalikan,” katanya.

dr. Steven Tandean, M.Ked (Neurosurg), Sp.BS, dalam Media Gathering Columbia Asia Hospital Medan bertajuk “Dari Diagnosis hingga Tindakan: Mengenal Manfaat DSA”, Rabu (26/8/2026).

Ia juga mengingatkan bahwa stroke tidak hanya terjadi pada kelompok lanjut usia. Kasus stroke dapat ditemukan pada usia yang lebih muda, termasuk kelompok usia 30-an, terutama apabila memiliki faktor risiko yang tidak terkontrol.

“Sekarang kita juga melihat orang usia 30-an sudah bisa mengalami masalah pembuluh darah. Karena itu, jangan merasa stroke hanya penyakit orang tua,” ujarnya.

Menurutnya, medical check-up secara berkala juga penting sebagai bagian dari pencegahan. Selama ini masyarakat lebih familiar dengan pemeriksaan kesehatan jantung, sementara perhatian terhadap kesehatan otak dan pembuluh darah masih relatif minim.

“Medical check-up untuk jantung sudah cukup banyak dilakukan, tetapi perhatian terhadap kesehatan otak dan pembuluh darah otak masih relatif minim. Pencegahan yang paling penting adalah mengontrol faktor risiko dan melakukan pemeriksaan serta konsultasi ke dokter,” katanya.

Sementara itu, Hospital CEO RS Columbia Asia Medan dr. Stella Sheyren Sumampow, MARS., CDCAP., CHAE., CPCCP, mengatakan kehadiran layanan DSA merupakan bagian dari upaya menyediakan teknologi yang mendukung diagnosis dan penanganan gangguan pembuluh darah secara lebih terintegrasi.

“Pesan kami sederhana: kenali gejalanya, jangan menunda pertolongan, dan percayakan keputusan pemeriksaan maupun tindakan kepada tim medis. Kehadiran layanan DSA merupakan bagian dari upaya menyediakan teknologi yang dapat mendukung diagnosis dan penanganan gangguan pembuluh darah secara lebih terintegrasi,” kata Stella.

Dengan tersedianya teknologi seperti DSA, dokter memiliki sarana untuk mendapatkan gambaran pembuluh darah secara lebih rinci ketika memang dibutuhkan. Namun, keberhasilan penanganan stroke tetap sangat dipengaruhi oleh kecepatan pasien mendapatkan pertolongan dan ketepatan terapi sesuai kondisi masing-masing.

Karena itu, ketika gejala stroke muncul, jangan menunggu. Kenali B.E. F.A.S.T., segera cari pertolongan medis, dan biarkan dokter menentukan pemeriksaan serta tindakan yang paling sesuai. (SC03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *