Medan – Keindahan Danau Toba sebagai destinasi unggulan Indonesia tak diragukan lagi. Namun, di balik pesonanya, masih ada persoalan mendasar, salah satunya ketidakjelasan tarif masuk sejumlah objek wisata.
Anggota DPRD Sumut, Pantur Banjarnahor, mengungkapkan banyak wisatawan mengeluhkan tarif masuk yang berbeda-beda, bahkan di lokasi yang sama. Tarif kerap berubah tanpa dasar jelas dan ditentukan sepihak oleh pengelola.
“Banyak wisatawan tidak nyaman karena tidak ada standar tarif yang pasti. Ada yang dikenakan harga berbeda di tempat yang sama. Ini merusak kesan profesional dan menyenangkan yang seharusnya ada di Danau Toba,” kata Pantur di Medan, Jumat (8/8/2025).
Ia menegaskan, sebagai kawasan yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), Danau Toba harus dikelola secara profesional, akuntabel, dan bebas dari pungutan liar. “Harus ada regulasi tegas dan pengawasan ketat agar citra Danau Toba di mata dunia tidak rusak,” ujarnya.
Pantur juga menekankan pentingnya keberlanjutan pembangunan infrastruktur dan fasilitas wisata. Menurutnya, apa yang telah dibangun tidak boleh dibiarkan terbengkalai. “Pemerintah sekarang tidak boleh lepas tangan. Pembangunan harus berkesinambungan supaya Danau Toba menjadi motor penggerak ekonomi daerah,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan pariwisata tidak hanya sebatas pembangunan fisik, tetapi juga peningkatan kapasitas SDM lokal, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan. “Kalau mau jadi destinasi kelas dunia, semua aspek harus dirancang sebagai satu kesatuan,” katanya.
Pantur mendorong sinergi antar kabupaten/kota di kawasan Danau Toba dengan Pemerintah Provinsi Sumut sebagai penggerak utama. Ia juga menilai perlu perubahan cara pandang masyarakat, dari melihat pariwisata sekadar usaha sampingan menjadi sektor ekonomi utama.
“Mindset ini harus diubah. Pemerintah perlu sosialisasi masif agar masyarakat melihat pariwisata sebagai sumber penghidupan utama,” tegasnya.
Pantur berharap setiap wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba pulang dengan kesan positif. “Promosi terbaik adalah pengalaman wisatawan itu sendiri. Kalau mereka senang, mereka akan menjadi duta wisata Danau Toba,” pungkasnya.
Ia optimistis, dengan kepastian tarif, tata kelola profesional, dan komitmen pemerintah yang kuat, Danau Toba mampu menjadi lokomotif utama sektor pariwisata Sumut serta memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat lokal. (SC02)













![[Foto 9] Gareng, bersama putrinya Endang Nilowati, dan istrinya mendengarkan laporan persiapan pernikahan dari para dungik](https://sumutcyber.com/wp-content/uploads/2026/10/Foto-9-Gareng-bersama-putrinya-Endang-Nilowati-dan-istrinya-mendengarkan-laporan-persiapan-pernikahan-dari-para-dungik-90x90.jpg)






















