Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan penanganan darurat dan pemulihan bencana hidrometeorologi basah di Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara hingga Jumat, 16 Januari 2026. Upaya terpadu lintas sektor terus dilakukan untuk memastikan keselamatan masyarakat terdampak sekaligus mempercepat transisi dari fase tanggap darurat menuju pemulihan awal.
Dalam perkembangan terkini, ada peningkatan jumlah korban jiwa. Total korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi di tiga provinsi mencapai 1.198 orang, sementara korban hilang tercatat sebanyak 144 orang. Adapun penambahan korban meninggal dunia ada di Provinsi Aceh sebanyak 8 orang. Jumlah penduduk terdampak yang masih berada di lokasi pengungsian tercatat sebanyak 166.579 jiwa.
Percepatan pembangunan hunian sementara (huntara), pembukaan dan pembersihan akses jalan dan jembatan serta pemulihan kawasan permukiman terus ditingkatkan agar semakin kondusif untuk dihuni kembali.
Upaya pemasangan jembatan juga masih dilakukan. Jembatan Aramco dan Bailey masih dalam proses pemasangan. Pemasangan ini dilakukan oleh Satgas Yonzipur 5/ABW di Kabupaten Aceh Utara. Masih di wilayah yang sama, upaya pembersihan fasilitas publik juga dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari TNI dan Polri.
Terkait pemenuhan air bersih, progres perbaikan jaringan PDAM terus dilakukan. Salah satunya di Kabupaten Bener Meriah. Upaya ini dilaporkan per Kamis (15/1) sudah mencapai 80 %.
Adapun laporan distribusi logistik yang berhasil dihimpun sejak 29 Nov hingga 15 Jan yakni sebanyak 1.747,11 ton telah berhasil didistribusikan kepada warga terdampak. Lebih lanjut distribusi harian di Provinsi Aceh melalui udara sebanyak 12 sorti dengan berat 11,9 ton dan 4 truk via darat 10,4 ton sehingga total terdistibusi yakni 22,3 ton. untuk wilayah Sumatera Utara melalui udara sebanyak 2,75 ton dan via darat 93,19 ton sehingga total terdistibusi yakni 98,14 ton.
BNPB bersama pemerintah daerah terus mengakselerasi pembangunan hunian sementara dengan target utama penyelesaian sebelum bulan Ramadan. Dari total 50.668 unit rumah rusak berat, telah diajukan pembangunan hunian sementara sebanyak 27.860 unit. Saat ini, 5.738 unit masih dalam proses pembangunan dan 781 unit telah selesai dibangun dan siap dihuni. Selain itu, pengajuan hunian tetap tercatat sebanyak 10.273 unit, dengan 648 unit di antaranya sedang dalam tahap konstruksi.
BNPB Beri Pendampingan Daerah dalam Penentuan Rumah Rusak Ringan dan Sedang Akibat Bencana
Skema bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) juga terus dioptimalkan untuk mendukung masyarakat terdampak selama masa transisi menuju hunian tetap. Hingga pertengahan Januari 2026, pengajuan DTH telah mencapai 15.346 kepala keluarga. Dari jumlah tersebut, 10.717 rekening penerima telah siap, dengan penyaluran yang terus meningkat. Tercatat penambahan 153 penerima dalam periode terakhir, sehingga total penerima DTH yang telah menerima bantuan mencapai 2.695 kepala keluarga.
Sebagai bagian dari upaya percepatan tanggap darurat, pemulihan, serta mitigasi risiko bencana hidrometeorologi basah dalam jangka pendek, BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hingga 14 Januari 2026, OMC di wilayah Aceh telah dilaksanakan sebanyak 449 sorti dengan total bahan semai natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) sebesar 431.600 kilogram. Wilayah Sumatera Utara sebanyak 368 sorti dengan total bahan semai 322.000 kilogram.
Di Provinsi Sumatra Utara, OMC telah dilakukan sebanyak 368 sorti dengan total bahan semai sekitar 322.000 kilogram, sementara di Sumatra Barat tercatat 384 sorti dengan total bahan semai 381.325 kilogram. Operasi ini ditujukan untuk mengendalikan intensitas curah hujan dan mengurangi potensi bencana susulan di wilayah rawan.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menegaskan, komitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, serta seluruh unsur masyarakat dalam memastikan penanganan bencana berjalan efektif, terukur, dan berkelanjutan.
Dengan sinergi yang solid, percepatan pemulihan infrastruktur dasar, pemenuhan kebutuhan hunian layak, serta penguatan langkah mitigasi diharapkan mampu mengembalikan kehidupan masyarakat terdampak secara bertahap menuju kondisi yang lebih aman, tangguh dan berdaya menghadapi risiko bencana ke depan. (SC03)






















