Fellow Ashoka 1989, dr Sofyan Tan Bangun Sekolah Inklusif untuk Anak Keluarga Miskin

Medan – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, mengungkapkan dukungan Ashoka pada 1989 menjadi salah satu faktor penting yang membantunya mengembangkan pendidikan inklusif bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Hal itu disampaikan Sofyan Tan dalam Live Podcast bertajuk “Mengubah Dunia dari Sumatera Utara” pada rangkaian Pelatihan Guru Gaharu (Gerakan Semua Orang Pembaharu/Changemaker) yang digelar Ashoka Asia Tenggara di Hotel Santika Dyandra Medan, Minggu (18/10/2026).

Kegiatan tersebut diikuti guru SMP dan SMA di Sumatera Utara serta dihadiri Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara, Nani Zulminarni.

Sofyan Tan mengatakan, penghargaan Fellow Ashoka yang diterimanya pada 1989 memberikan dukungan finansial berupa stipendium dan jaminan biaya untuk melanjutkan perjuangannya di bidang pendidikan. Dukungan itu membuatnya berani meninggalkan profesi dokter yang telah lama diimpikannya.

“Tanpa Ashoka, saya tidak bisa menjadi seperti saat ini. Penghargaan Fellow Ashoka pada tahun 1989 memberi saya stipendium dan jaminan biaya untuk melanjutkan perjuangan di dunia pendidikan, meskipun saat itu saya harus merelakan jubah dokter yang saya impi-impikan sejak kecil,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keputusannya menekuni pendidikan tidak terlepas dari pengalaman hidup dalam kemiskinan dan diskriminasi. Lahir sebagai anak kedelapan dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, Sofyan Tan mengaku mengalami dan menyaksikan berbagai bentuk diskriminasi sosial dan rasial sejak kecil.

Pengalaman tersebut turut membentuk tekadnya untuk membangun sekolah yang mempertemukan anak-anak dari berbagai latar belakang suku, agama, dan kondisi ekonomi dalam lingkungan belajar yang setara.

Dengan modal awal dari pinjaman Rp60 juta, ia mendirikan Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM). Dalam perjalanannya, dukungan Ashoka berupa stipendium Rp500 ribu per bulan pada 1989 membantu pembiayaan perjuangannya membangun sekolah tersebut.

Menurut Sofyan Tan, pendidikan merupakan jalan untuk mengatasi kemiskinan, prasangka, dan ketidakadilan sosial.

Ia menyebut YPSIM kini memiliki aset pendidikan senilai ratusan miliar rupiah serta telah membina lebih dari 7.500 anak asuh, melahirkan ribuan sarjana, dan puluhan dokter dari keluarga kurang mampu.

“Dari modal nekat dan dukungan jejaring pembaharu, YPSIM telah memiliki aset pendidikan senilai ratusan miliar dan, yang paling berharga, melahirkan lebih dari 7.500 anak asuh serta mencetak ribuan sarjana dan puluhan dokter dari keluarga miskin,” katanya.

Dalam kegiatan yang sama, Pendiri Kiddos Explorer, Deasy M. Sitompul, membagikan pengalamannya membangun komunitas pembelajaran alternatif berbasis keluarga dan homeschooling.

Deasy menekankan pentingnya menciptakan ruang belajar yang mendorong anak-anak berinteraksi dengan berbagai kelompok sosial, usia, dan budaya. Menurutnya, inisiatif pendidikan dapat dimulai dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia tanpa harus menunggu seluruh fasilitas terpenuhi.

“Ketika kita ingin fokus mendidik anak dan menciptakan perubahan, jangan menunggu semua sarana tersedia. Gunakan apa yang ada, dan jika belum ada, buatlah inisiatif itu sendiri,” ujar Deasy. (SC03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *