Medan – Sebuah ikatan persaudaraan terkadang tumbuh jauh sebelum generasi berikutnya mengenal satu sama lain. Ia berawal dari sejarah, dirawat oleh kenangan, lalu diwariskan menjadi hubungan kekeluargaan yang melampaui batas suku dan generasi.

Itulah yang tergambar dalam penabalan adat Karo terhadap Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas dan istrinya, Ny. Airin Rico Waas, dalam rangkaian kegiatan Mburo Ate Tedeh di Gedung Serbaguna TP PKK Kota Medan, Sabtu (7/11/2026).
Rico Waas kini resmi menyandang Merga Ginting Suka dengan bebere Tarigan. Sementara Airin ditabalkan sebagai Beru Sembiring Pelawi dengan bebere Karo Sekali Suka Piring.
Namun, penabalan tersebut bukan sekadar pemberian identitas adat. Di baliknya tersimpan kisah hubungan dua keluarga yang memiliki jejak sejarah dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda di Tanah Karo dan Sumatera Utara.
Nama Letnan Jacob Waas, kakek Rico Waas, memiliki kaitan erat dengan sosok Pahlawan Nasional Letjen Djamin Ginting. Keduanya pernah berada dalam satu perjalanan perjuangan sekitar 1947. Bahkan, Letnan Jacob Waas pernah menjadi ajudan Djamin Ginting.
Kedekatan itulah yang kemudian menjadi salah satu landasan historis dan emosional bagi keluarga Waas untuk dipersatukan dalam tatanan adat Karo.
Sejarah yang dahulu terjalin melalui perjuangan kini menemukan bentuk lain. Bukan lagi dalam suasana pertempuran, melainkan melalui penghormatan adat dan pengakuan persaudaraan.
Bukan Sekadar Merga, Ada Amanah yang Menyertai
Bagi Rico Waas, menerima Merga Ginting Suka bukan hanya sebuah kehormatan. Ada tanggung jawab yang harus dijalankan setelah dirinya menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Karo.
Ia menyadari bahwa merga yang disandangnya membawa konsekuensi untuk ikut menjaga nilai-nilai budaya dan persaudaraan.
“Ini bukan saja sebuah hal yang hanya diberikan, tapi penghargaan yang sangat luar biasa besar. Ada tanggung jawab yang begitu besar, termasuk bagaimana kesukuan dan kebangsaan kita harus dirawat sebaik mungkin,” kata Rico usai menjalani prosesi penabalan.
Sebagai Wali Kota Medan, Rico juga menegaskan tanggung jawabnya untuk memberikan perhatian dan keadilan kepada seluruh masyarakat tanpa membedakan suku, agama, adat maupun budaya.
Baginya, keberagaman merupakan bagian dari kehidupan Kota Medan yang harus dirawat bersama.
Ia pun berharap masyarakat Karo terus menjaga dan mengembangkan kebudayaannya sehingga tetap menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Kota Medan.
Rico turut menceritakan kesungguhan istrinya, Airin, dalam mempelajari sejarah dan kebudayaan Karo selama proses persiapan penabalan yang telah direncanakan sejak setahun sebelumnya.
Airin ingin memahami lebih jauh sejarah, tradisi, serta makna merga dan beru yang kini melekat pada dirinya.
“Kami akan jalankan amanah ini. Mudah-mudahan tanggung jawab ini tidak memberikan kekecewaan bagi masyarakat Karo. Izinkan kami bekerja keras dan mencintai seluruh masyarakat Kota Medan, termasuk masyarakat Karo,” ujarnya.
Adat sebagai Jembatan Persaudaraan
Pemrakarsa sekaligus tokoh masyarakat Karo, Prof. Dr. Runtung Sitepu, menegaskan bahwa pemberian merga kepada Rico Waas dan beru kepada Airin merupakan bentuk penghormatan terhadap adat dan budaya Karo, bukan sesuatu yang bermuatan politik.
Penabalan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan persaudaraan sekaligus memperkenalkan nilai-nilai adat kepada generasi berikutnya.
Ketua Panitia, Muhammad Edison Ginting, menjelaskan Mburo Ate Tedeh bukan sekadar kegiatan berkumpul dan melepas kerinduan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk merawat seni, budaya, silaturahmi, serta komunikasi masyarakat Karo di Kota Medan.
“Acara hari ini kita lakukan dari kita, untuk kita, sebagai upaya memajukan seni dan budaya, merajut silaturahmi, serta mempererat komunikasi di antara kita semua. Kita ingin mewujudkan Medan untuk Semua yang dapat dirasakan seluruh masyarakat adat di Kota Medan,” katanya.
Kemeriahan Mburo Ate Tedeh pun memperlihatkan bagaimana tradisi tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Alunan musik tradisional, prosesi adat, adu pengantin yang diiringi tarian dan nyanyian khas Karo, hingga manuk sangkep atau makan bersama menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Setiap prosesi menghadirkan makna kebersamaan. Ada penghormatan kepada adat, keakraban antarkeluarga, serta upaya mempertahankan tradisi yang diwariskan para leluhur.
Dalam adat Karo, merga dan beru bukan sekadar nama atau gelar. Keduanya merupakan identitas yang menandai hubungan kekerabatan, persaudaraan, dan penghormatan dalam kehidupan masyarakat.
Kini, melalui penabalan tersebut, keluarga Waas memiliki ikatan adat dengan masyarakat Karo.
Jejak persahabatan dan perjuangan Letnan Jacob Waas bersama Djamin Ginting yang terhubung dengan generasi terdahulu menemukan kelanjutannya dalam sebuah prosesi adat.
Dari sejarah perjuangan lahir persaudaraan. Dari persaudaraan tumbuh tanggung jawab untuk menjaga kebudayaan.
Dan di tengah keberagaman Kota Medan, ikatan itu menjadi pengingat bahwa perbedaan bukan alasan untuk berjarak, melainkan ruang untuk saling mengenal, menghormati, dan menjadi keluarga.
Sebab, merawat adat bukan hanya tentang mempertahankan tradisi masa lalu, tetapi juga memastikan nilai persaudaraan tetap hidup bagi generasi mendatang. (SC03)
Foto-foto: Dok. Diskominfo Medan




































