Berjuang di Tengah Keterbatasan, Program JKN Jadi Penopang Hidup Lisda

Medan –  Di balik hiruk pikuk kesibukan Desa Tangkahan, Langkat, Sumatra Utara, tersimpan keteguhan hati seorang ibu yang dalam kesehariannya bekerja sebagai pemulung. Lisda Br Pasaribu (43) membuktikan bahwa keberadaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan bukan sekadar program, melainkan kebutuhan yang menyentuh hidup masyarakat kelas bawah.

Dengan kehidupan yang sederhana dan sumber penghasilan tidak menentu, akses layanan kesehatan gratis menjadi harapan nyata dalam mempertahankan kehidupan.

“Saya terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan sudah lama sekali, mungkin sekitar belasan tahun lalu saat itu masih bernama ASKES. Sekarang saya menggunakan JKN dari BPJS Kesehatan yang iurannya dibayarkan oleh pemerintah,” ungkap Lisda saat diwawancarai pada Selasa (08/04).

Ia mengaku tidak lagi mengingat detail proses awal pendaftaran. Namun, yang diingat Lisda, ia pernah mengurus kembali aktivasi kepesertaan melalui kantor kelurahan. Baginya, proses administrasi tersebut tidak pernah dirasakan memberatkan. Dalam pandangannya, semua berjalan cukup lancar dan tidak serumit yang dibayangkan banyak orang.

Dalam pengalaman kesehariannya, Lisda menilai bahwa layanan Program JKN terutama saat dirinya mengakses rumah sakit maupun klinik relatif memuaskan. Ia menyadari bahwa kunci dari semua pelayanan adalah kesiapan pribadi dalam menghadapi proses yang ada. Ketika banyak orang mengeluhkan antrean panjang, Lisda justru melihat itu sebagai bagian tidak terpisahkan dari kehidupan.

“Saat ini ke mana-mana sekarang harus antre, di WC saja antre apalagi di rumah sakit. Kalau kita butuh berobat, harap sabar aja. Kalau mau cepat, siap-siap standby dari awal. Sekarang juga BPJS Kesehatan punya Aplikasi Mobile JKN dengan fitur mengambil nomor antrean secara online. Sangat membantu sekali kalau menurut saya,” tutur Lisda santai.

Lisda sendiri sudah membuktikan manfaat besar dari program ini. Ia pernah menjalani operasi sinusitis di Rumah Sakit Daerah Pangkalan Brandan, setelah bertahun-tahun menderita sejak masa remajanya. Sebelumnya, ia tidak memiliki akses untuk operasi karena keterbatasan biaya. Baru setelah terdaftar sebagai peserta Program JKN, ia berani menjalani tindakan medis tersebut.

“Sejak masih gadis saya sudah kena sinus, tapi karena tidak punya biaya, saya tahan-tahan saja. Begitu ada BPJS Kesehatan, langsung saya operasi. Puji Tuhan, sampai sekarang sudah membaik dan saya bisa beraktivitas lagi,” ucapnya dengan wajah berbinar.

Tidak hanya itu, dalam dua tahun terakhir, Lisda kembali dihadapkan pada tantangan kesehatan saat harus melahirkan melalui operasi caesar. Lagi-lagi, Program JKN menjadi penyelamat di tengah keterbatasan ekonominya. Ia mengaku, tanpa adanya program tersebut mungkin hidupnya dan bayinya tidak dapat diselamatkan.

“Kalau bukan karena BPJS, saya nggak tahu lagi bagaimana nasib saya kemarin waktu operasi caesar. Modalnya besar kali, dari mana saya dapat duit segitu? Dengan BPJS, semua teratasi. Umur saya juga sudah tidak muda lagi jadinya melahirkan secara operasi merupakan pilihan yang sangat tepat,” kata Lisda.

Lisda mengungkapkan bahwa selama menjalani kontrol pasca operasi, ia mendapatkan pelayanan yang sangat baik dari para tenaga kesehatan. Baik dokter maupun perawat bersikap ramah, terbuka, dan cepat tanggap dalam menangani keluhannya.

“Harapan saya satu, tolonglah, jangan dihentikan BPJS ini. Mohon perhatian dan kepedulian pemerintah terhadap Kesehatan masyarakatnya tidak pernah putus. Kami ini rakyat kecil, penghasilan pun tak menentu. Kalau BPJS Kesehatan sampai tidak ada lagi maka kami tentunya akan sangat merasa kehilangan. Apalagi sekarang makin tua, penyakit makin banyak,” tutup Linda. (SC03)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *