Prof. Dr. Elmeida Effendy, dr., M.Ked, Sp.KJ., Subsp. B.P (K).

Sumutcyber.com, Medan – Stres menjadi ancaman bagi para calon anggota legislatif (Caleg) yang gagal dalam Pemilu 2024.

Ketua Program Studi Psikiatri FK USU, Prof. Dr. Elmeida Effendy, dr., M.Ked, Sp.KJ., Subsp. B.P (K), mengatakan, stres merupakan reaksi adaptasi yang sifatnya sementara. Namun, dapat berubah menjadi distres atau stres negatif terutama bagi mereka yang sudah mempersiapkan diri secara optimal.

“Kecuali orang tersebut memang sudah memiliki faktor risiko sebelumnya, apalagi bagi mereka yang sudah mempersiapkan segala sesuatunya bisa saja memiliki kerentanan untuk distres atau stres negatif,” ungkap Elmeida, Selasa (13/2/2024).

Prof. Elmeida mengidentifikasi tiga kategori Caleg berdasarkan motivasi dan tujuan mereka dalam mencalonkan diri, yakni sungguh-sungguh berniat, sekesae mengikuti/menjalankan kebijakan partai, dan hanya sekedar mengisi kuota.

“Ada 3 kategori pendaftar caleg, pertama memang berniat sungguh sungguh ingin mencalonkan diri dengan persiapan optimal; menjalankan kebijakan partai, terpilih syukur, tidak juga tidak apa apa; ketiga, ⁠sekedar pelengkap memenuhi kuota,” imbuhnya.

Namun, lanjutnya, tak jarang banyak Caleg yang melibatkan diri dengan serius dalam proses kampanye, bahkan hingga merelakan segala sumber daya yang dimiliki, termasuk waktu, tenaga, dan bahkan dengan menempuh langkah ekstrim seperti menjual ginjal.

“Banyak Caleg yang habis habisan mengeluarkan waktu, tenaga, uang untuk kampanyenya, bahkan ada juga yang sampai menjual ginjal, seperti yang saya baca dalam berita,” imbuhnya.

Prof. Elmeida menilai ada faktor-faktor risiko yang dapat memperburuk kondisi stres dan kesehatan mental seseorang, yakni genetik, kematangan pribadi, ciri kepribadian, berat ringannya stresor yang dihadapi, dan dukungan psikososial yang tersedia.

Bagi caleg yang gagal terpilih, pengalaman ini bisa menjadi pukulan emosional yang berat. Mereka mungkin merasakan berbagai macam emosi negatif, mulai dari kekecewaan dan stres hingga kemarahan, rasa bersalah, dan malu.

“Gagal terpilih dapat menjadi pengalaman yang menimbulkan stres bagi caleg karena mereka telah mempersiapkan diri dengan matang dan berharap untuk terpilih..Namun harapan tersebut tidak tercapai, sehingga caleg merasa kecewa dan stres. Selain istres dan depresi mereka yang gagal terpilih juga dapat merasa emosi negatif lainnya seperti  kemarahan, rasa bersalah, malu,” imbuh Guru Besar USU ini.

Oleh karena itu, Prof. Elmeida menekankan pentingnya persiapan mental sebelum dan sesudah terjun ke dunia politik, termasuk kesiapan untuk menghadapi kemungkinan kegagalan.

“Mempersiapkan mental sebelum dan sesudah terjun ke dunia politik adalah modal utama bagi para pemimpin dan Caleg, menanamkan dalam jiwa untuk siap kalah adalah sebuah keharusan. Untuk itu diharapkan para Caleg mempersiapkan mental sematang mungkin untuk mengikuti dinamika pemilu 2024,” tutupnya. (SC03)

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *