Medan – Mangrove selama ini dikenal sebagai pelindung garis pantai dan ekosistem perairan. Namun bagi lima mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU), hutan mangrove di Desa Lubuk Kasih menyimpan potensi yang jauh lebih besar yaitu sebagai sumber pangan dan energi.
Melalui program PKM-PM berjudul “Mangrove Eco-Revolution: Transformasi Mangrove Lubuk Kasih Menjadi Pangan dan Biochar”, tim yang terdiri dari Ricabella Aprilla Hutauruk, Mei Edis Siahaan, Anggata, Afwan Hafizullah, dan Hottua F Sihaloho, di bawah bimbingan dosen Doni Aldo Siahaan, S.Si., M.Si., berhasil menghadirkan inovasi yang memadukan kelestarian lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.
Mangrove yang selama ini sebagian besar dianggap sebagai ekosistem biasa dan belum dimanfaatkan secara optimal, kini daun dan buahnya diolah menjadi produk pangan bernilai tinggi, seperti keripik, cookies, sirup, dan selai mangrove. Batang dan ranting yang sudah tidak produktif diubah menjadi biochar, arang hayati yang berfungsi memperbaiki kualitas tanah, menyuburkan tanaman, sekaligus menjaga keseimbangan ekologi.
Inovasi ini tidak berhenti pada produk semata. Bersama mitra , yaitu Ibu-ibu PKK Desa Lubuk Kasih, tim PKM-PM Mangroveer mengajarkan keterampilan baru dalam pengolahan mangrove menjadi produk yang bernilai jual.
“Awalnya kami tidak tahu sama sekali bahwa ternyata mangrove bisa diolah menjadi olahan makanan seperti ini, bahkan kami kira mangrove ini hanya bisa untuk hewan dan beracun untuk manusia. Namun sekarang kami sudah tahu dan bisa membuat makanan yang enak sekaligus menjaga lingkungan,” ujar salah satu anggota PKK.
Melalui program ini, ibu-ibu PKK tidak hanya mendapatkan keterampilan baru, tetapi juga membuka peluang usaha dan menambah pengalaman dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Program Mangroveer harapannya dapat menghadirkan perubahan sosial dan ekonomi yang nyata bagi Desa Lubuk Kasih. Desa yang dulunya hanya dikenal sebagai kawasan pesisir biasa, kini mulai membangun identitas baru sebagai desa yang mampu menjaga ekologi sekaligus mandiri dalam pangan dan energi.
Tak hanya berdampak bagi desa setempat, inovasi ini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi desa-desa pesisir lainnya di Indonesia. Dengan potensi mangrove yang tersebar luas di Nusantara, desa-desa lain bisa mencontoh Lubuk Kasih untuk memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan, menciptakan pangan alternatif, energi ramah lingkungan, dan meningkatkan ekonomi lokal.
Sejalan dengan tantangan perubahan iklim dan kebutuhan akan pangan berkelanjutan, langkah mahasiswa USU ini menjadi bukti nyata bahwa menjaga ekologi tidak mengorbankan ekonomi. Justru, dengan menjaga lingkungan, pangan tetap terjaga, energi tersedia, dan kesejahteraan masyarakat meningkat.
“Jargon kami yaitu ‘Ekologi kita jaga, pangan terjaga’ bukan hanya kalimat manis dari kami. Ini adalah bukti aksi nyata kami sebagai anak muda dalam menjaga bumi, memberdayakan masyarakat, dan membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” ujar Ricabella selaku ketua tim Mangroveer.
Melalui Mangroveer, mahasiswa USU menunjukkan bahwa inovasi berbasis ekologi tidak hanya menjadi ide kreatif di atas kertas, tetapi juga bisa mengubah kehidupan masyarakat secara nyata, sekaligus menghadirkan harapan baru bagi pembangunan desa pesisir di Indonesia. (SC03)

