HeadlineUmum

Sungai Dan Parit Di Medan Jadi ‘Tong Sampah’ Raksasa

Sumutcyber.com, Medan – Medan baru saja mendapat predikat kota terkotor oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Atas dasar ini, Tim Sumutcyber menelusuri beberapa lokasi di Medan yang biasanya dijadikan tempat pembuangan sampah.

Di Medan, aliran sungai Deli dan drainase besar, jadi ‘tong sampah’. Membuang sampah di tempat itu, seolah jadi hal lumrah. Kondisi itu semakin diperparah dengan pemerintah kotanya yang tak mampu menyediakan tempat sampah serta mengutip sampah itu secara rutin setiap hari.

Kejadian itu bukan setahun dua tahun terjadi, berulang kali ganti walikota, kebersihan di kota Medan tak kunjung terealisasi. Lihat saja di aliran Sungai Deli yang membentang luas di Kota Medan. Ribuan rumah yang berjajar dipinggiran sungai itu, kerap membuang sampai di tempat itu.

Sampahnya banyak bertebaran, jika banjir tiba. Limbah kadang tersangkut kayu, hingga menggunung di sungai. Tak hanya itu masyarakat pinggiran Sungai Deli juga banyak yang sengaja membuat saluran air rumahnya langsung ke sungai, tak ayal seluruh limbah rumah tangga mengalir ke Sungai Deli.

Adakalanya kebiasaan membuang sampah tak sepenuhnya, karena kesalahan masyarakat. Ini juga bagian dari tanggungjawab Pemko Medan. Armadanya tidak rutin mengutip sampai setiap hari nya, bahkan ada beberapa warga yang rumahnya tidak terdaftar dalam daftar kutipan aramada pemungut sampah Pemko .

Seperti yang dirasakan Irawan , warga pinggiran sungai Deli yang tinggal di dekat Jl.Juanda, Kec.Medan Maimun. Sudah lebih dari 20 tahun ia membuang sampah di Sungai Deli dengan alasan karena tidak ada dari dinas kebersihan dan pertamanan Kota Medan yang mengutip sampahnya. Demikian pun Irawan masih terbilang sedikit membuang limbah sampah, para tetangganya lebih parah lagi .

“Kami masih mending hanya limbah masakan, tetangga yang lain membuang limbah plastik dan limbah rumah tangga lainnya.Hampir seluruh warga di pinggiran sungai Deli membuang ke sungai,” ungkapnya.

Karena banyaknya sampah yang dibuang, Sungai Deli begitu kumuh dan kotor. Sepanjang pinggiran sungai Deli banyak ditemukan sampah, karena itu wajah saja apabila Kota Medan menyandang gelar kota terkotor di Indonesia, dari Kementrian lIngkungan Hidup .

Selain Sungai Deli hal serupa juga terjadi di drainase atau parit di Kota Medan . Misalnya saja drainase yang berada di Kel.Sei Kera Kec.Medan Perjuangan, dari penelusuran Kumparan, panjang drainase itu panjangnya sekitar 2 km dengan lebar sekitar 10 meter .

Kondisi Parbus yang sudah puluhan tahun tercemar limbah.

Masyarakat menamainya Parbus akronim dari kata Parit Busuk. Karena baunya yang tidak sedap di sepanjang tempat itu. Air di parit itu warnanya hitam pekat . Berbagai sampah rumah tangga tampak di tempat itu mulai dari limbah plastik sampai sisa sisa bekas makanan.

Ramlan warga sekitar mengatakan, semenjak tahun 1960 an masyarakat sudah membuang sampah di tempat ini, begitu pun warga lain dari luar daerah itu. Padahal dulunya tempat itu bekas sungai tempat masyarakat mandi dan menangkap ikan, lantaran airnya yang jernih .

“Sejak dulu bahkan sudah 17 kali ganti lurah, mereka tak bisa menghentikan masyarkat membuang sampah sembarangan,” kata pria kelahiran 1934 itu .

Ramlan mengatakan, bahwa sudah ada Tempat pembuangan sampah sementara di dekat kantor Lurah Kantor Sei Kera . Namun masyarakat tetap enggan mengantarkan sampahnya di tempat itu . Selain itu kendala lainnya, petugas pemungut sampah di sekitaran Parbus juga tidak rutin mengutip samoaj setiap harinya.

“Kadang seminggu 2 kali, kadang sampah yang berbau busuk tak dianggkat, karenanya banyak masyarakat yang buang sampah ke sungai ,” katanya .

Menyikapi hal ini, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertanaman Kota Medan M. Husni mengatakan, ada sejumlah kendala yang dihadapinya untuk menangani sampah itu, termasuk tidak rutinnya tim pengutipan sampah serta adanya masyarakat yang belum terdata, pada program pemungutan sampah Pemko Medan.

“Kami akan melakukan evaluasi terkait keluhan masyarakat, serta akan melaksanakan pendataan ulang, bagi warga masyarakat yang belum terdaftar,” ungkapnya

Nanti, kata Husni, juga akan ada evaluasi dengan mandor kebersihan untuk pengawasan. M.Husni juga telah mempersiapkan sejumlah program kebersihan salah satunya dengan penambahan armada. Di samping itu juga akan mengoperasikan kembali Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Namo Bintang guna mendukung TPA Terjun untuk menampung sampah yang dihasilkan warga setiap harinya.

Kata Husni, salah satu kendala dalam penanganan sampah karena kurangnya moda angkutan sampah. Angkutan pengangkut sampah yang dimiliki tidak sebanding dengan sampah yang dihasilkan.

“Hasil pendataan yang telah dilakukan setiap warga Kota Medan menghasilkan 0,7 kg sampah perhari. Jika dikalikan dengan jumlah penduduk Kota Medan yang saat ini mencapai sekitar 2,9 juta, maka sampah yang dihasilkan warga setiap harinya sekitar 2.000 ton. Ditambah lagi wilayah Kota Medan cukup luas dengan memiliki 21 kecamatan, 151 kelurahan dan 2001 lingkungan,” ujar Husni

Sebelumnya kata Husni pada tahun 2018, moda angkutan yang digunakan 273 unit, untuk memaksimalkan proses pemungutan sampah, Pemko Medan juga melakukan penambahan 40 unit konvektor, termasuk becak di tahun 2018. “Jumlah ini pun masih dirasakan kurang, karenanya kita berupaya melakukan penambahan kembali di tahun 2019,” kata Husni. (RC)

Facebook Comments
Tags

Berita Terkait