HeadlineUmum

Kepedulian Kapoldasu Terhadap Balita Tanpa Anus

Sumutcyber.com, Medan – Pasangan suami istri M.Sofyah (39) dan Sri Wulandari (31), warga Kec. Percut Seituan Kab. Deli Serdang Sumatera Utara mulai lega. Pasalnya, buah hati mereka Clauzia (3) yang terlahir tanpa anus, sudah menjalani operasi penyembuhan di Rumah Sakit Bhayangkara Medan.

Awalnya, M.Sofyah, sempat pontang – panting mencari biaya operasi untuk anak semata wayangnya itu. Penghasilannya sebagai penarik becak motor, terbilang minim, itupun harus dibagi lagi untuk biaya hidup sehari-hari.

Clauzia awalnya sempat dioperasi, pada usia sembilan bulan, saat itu dokter yang membuat saluran pembuangan dari perut Clauzia. Namun setelah itu operasi untuk penyembuhan Clauzia tak kunjung dilakukan lagi, lantaran Sofyah tak punya uang

“Setelah itu, tidak pernah operasi lagi, karena tidak ada biaya. BPJS juga sudah mati, karena iurannya tidak sanggup dibayar,” ujarnya kepada Wartawan Rabu (16/1/2018).

Di tengah keputusasaan menyembuhkan Clauzia, tiba tiba muncul harapan baru, saat keduanya, mengikuti acara pertemuan penarik becak motor dengan Kapolda di Markas Polda Sumut 12 November 2018. Saat itu seingat M.Sofyah, Kapolda Sumut Agus Andrianto bertanya kepada Pabetor, apa yang bisa dia bantu kepada mereka.

“Saat Kapolda menayakan itu, saya langsung kedepan membawa anak saya kepada Kapolda dan bercerita tentang kondisinya. Kapolda saat itu langsung menyuruh anggotanya untuk mengobati anak saya,” katanya.

Dari kegiatan itulah selanjutnya pada Selasa (15/1), Clauzia dioperasi, dengan melibatkan dokter spesialis bedah anak, patologi, hingga spesialis anastesi dari Rumah Sakit Bhayangkara.

Sofyah begitu bersyukur atas bantuan yang diberikan Kapolda. Dia tak sepeserpun mengeluarkan uang untuk biaya operasi anaknya. Harapan untuk kesembuhan anaknya kini semakin besar, lantaran Kapolda akan membantu proses penyembuhan hingga tuntas.

Terkait penyakit yang diderita Clauzia, tim medis dari RS Bhayangkara Medan, dr Erjan Fikri SpB SpBA, mengungkapkan, ada kelainan berupa anus yang tidak pada tempatnya (fistula) pada diri Clauzia, ukurannya sangat kecil, bahkan ia menggambarkan lebih kecil dari pada batang korek api.

“Pada saat bayi, kelainannya tidak diketahui, karena kotoran bayi yang memang encer. Tapi dengan berjalannya waktu, dimana kotoran anak akan semakin keras sehingga semakin sulit keluar,” pungkasnya.

Saat ini, kata dr Erjan, Clauzia masih dalam perawatan di RS Bhayangkara Medan. “Clauzia masih perlu perwatan untuk penyembuhannya,” ujar Erjan. (RC)

Facebook Comments
Tags