Kesehatan

Pengamat: Ketidakpedulian Masyarakat Penyebab DBD Tinggi

MEDAN (Sumutcyber): Angka kesakitan akibat demam berdarah dengue yang diakibatkan oleh nyamuk aedes aegypti di Medan mencapai sebanyak 656 kasus. Angka tersebut berdasarkan data yang masuk ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Medan terhitung mulai Januari – September 2018.

Menanggapi hal ini, Pengamat Kesehatan Lingkungan Sumut Dr. Otniel Ketaren menegaskan, angka kesakitan demam berdarah dengue (DBD) di Medan akan tetap tinggi jika masyarakat tidak peduli dengan lingkungan. Masyarakat harus sadar, mau dan mampu berperilaku sehat jika mau kualitas hidup meningkat.

“Kita sendiri yang tahu kondisi lingkungan kita. Kondisi adanya genangan air di dalam rumah, drainase dan lainnya. DBD ini sangat erat kaitannya dengan perilaku masyarakat, giatkan aksi 3 M bagian dari kesehatan lingkungan, dimulai dari menguras, menimbun dan menutup tempat perkembangbiakan nyamuk aedes sebagai vektor penyebar DBD,” katanya kepada Waspada, Selasa (27/11).

Begitupun, lanjutnya, Dinas Kesehatan harus meningkatkan penyuluhan pencegahan DBD ke masyarakat. “Dinkes juga punya program penggunaan kimia hanya fogging fokus, radius 100-200 m di rumah pasien DBD, yang penting penyuluhan pencegahan DBD-nya semakin ditingkatkan,” ungkap Ketaren yang juga Kepala Pusat Studi Kesehatan Masyarakat, Kebencanaan dan LH USM Indonesia.

Dia menegaskan, penggunaan bahan kimia sudah sangat dibatasi dan merupakan pilihan terakhir. Oleh karena itu kebiasaan ada aksi fogging dari beberala calon legislatif (Caleg) dan lain di luar program Dinkes, bisa mengakibatkan resistensi nyamuk aedes. “Jadi fogging itu pilihan terakhir,” tegas Ketaren lagi.

Sedangkan Kepling, lanjutnya, hanya penggerak masyarakat tentang perlunya kepedulian terhadap lingkungan. “Sehabis hujan atau banjir menyisakan air di wadah-wadah kecil yang ada di halaman seperti kaleng bekas, ban bekas, sampah plastik, yang mnjadi tempat perkembangbiakan nyamuk aedes,” imbuhnya.

Ketika ditanya kasus DBD meningkat setiap musim penghujan? Ketaren menjawab diawal musim hujan biasanya populasi nyamuk meningkat, karena telur nyamuk yang tahan terhadap situasi kurang air, menetas begitu ada hujan.

“Menurut WHO penyakit tular vektor seperti DBD sangat erat berhubungan dengan pemanasan global/perubahan iklim. Pemanasan global bisa mempersingkat siklus nyamuk. Misalkan, mulai dari telur ke jentik hingga menjadi nyamuk sampai 3 minggu. Tetapi, dengan pemanasan global siklus hanya 1 atau 2 minggu, sehingga populasi nyamuk saat udara panas meningkat,” jelas Otniel.

Menurutnya, peningkatan populasi nyamuk ini bisa dicegah dengan perbaikan lingkungan baik di luar/halaman maupun di dalam rumah. “Setitik air saja, nyamuk ini bisa bertelur. Untuk itu, lakukan mechanical control seperti 3 M tadi. Selain itu, kebersihan lingkungan perlu juga dijaga, agar tempat berkembang biak atau breeding place nyamuk bisa dihambat,” tegasnya.

Dia juga menyarankan agar tempat yang dapat mengundang/menarik nyamuk atau atractant seperti resting place atau tempat peristirahatan nyamuk bisa disingkirkan.

“Pakaian-pakaian yang sudah dipakai, lalu digantung kembali menjadi resting place bagi nyamuk. Apalagi pakaian yang sudah kena keringat, akan mengundang nyamuk. Kalau bisa, pakaian yang sudah dipakai jangan digantung, memang pun harus digantung, jemur terlebih dulu,” tambahnya. (MC)

Facebook Comments
Tags