Jakarta – Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta mewisuda 978 sarjana di Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Kamis (20/11/2025). Proses wisuda dihadiri Menag Nasaruddin Umar yang juga sekaligus Rektor Universitas PTIQ.
Di hadapan wisudawan, Menag mengaku bangga atas kiprah para alumni PTIQ yang tersebar di berbagai bidang kehidupan.
“Sejauh ini, PTIQ tidak memiliki lulusan yang menganggur. Ini menunjukkan bahwa alumni PTIQ dibutuhkan di berbagai lini kehidupan dan memiliki kontribusi nyata di tengah masyarakat,” ujar Menag dilansir dari laman kemenag.go.id.
Menag juga menyoroti perkembangan PTIQ Jakarta yang terus memperluas cakrawala keilmuan. Dari institusi yang awalnya berfokus pada studi keislaman, PTIQ kini bergerak menuju integrasi antara wahyu dan akal, iman dan ilmu, spiritualitas dan profesionalitas. Transformasi ini diyakini akan memperkuat posisi PTIQ sebagai pusat pengembangan ilmu Al-Qur’an yang responsif terhadap kebutuhan zaman.
Tahun 2025 menjadi momentum penting dengan diresmikannya kampus baru PTIQ di Rorotan, Jakarta Utara. Kampus ini diproyeksikan untuk pengembangan Fakultas Kedokteran dan berbagai fakultas umum lainnya.
“Tahun ini PTIQ membangun kampus di Rorotan dengan fokus Fakultas Kedokteran dan fakultas umum lainnya. Keberadaan fakultas agama dan umum dirancang untuk melahirkan insan yang unggul, kompeten, berintegritas, dan berakhlak mulia,” kata Menag.
Pada bidang ekonomi syariah, PTIQ baru saja menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan International Centre for Education in Islamic Finance (INCEIF) Malaysia. Melalui kerja sama ini, mahasiswa Ekonomi Syariah PTIQ berpeluang mendapatkan gelar double degree bertaraf internasional. Selain itu, PTIQ juga telah memperoleh asesmen serta persetujuan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk mendirikan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) di bidang Al-Qur’an, sehingga lulusannya kelak memperoleh sertifikat kompetensi profesional selain ijazah akademik.
Menag menegaskan bahwa seluruh langkah strategis tersebut merupakan bagian dari upaya konsisten PTIQ dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Akses pendidikan juga terus diperluas melalui berbagai program beasiswa agar semakin banyak generasi muda dapat mengenyam pendidikan Qurani yang bermutu.
Lebih jauh, PTIQ mengembangkan pendekatan Qurani yang berorientasi pada pembentukan profesional Qurani, yakni pribadi yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai wahyu, kedalaman spiritual, kecerdasan intelektual, serta tanggung jawab moral dalam bidang keilmuannya masing-masing. Pendekatan ini menjadi fondasi dalam mewujudkan visi besar PTIQ sebagai pusat keunggulan kajian Al-Qur’an yang terintegrasi dengan sains dan konteks keindonesiaan.
Menag juga menegaskan bahwa PTIQ secara konsisten menanamkan etos Qurani dalam pola pikir, perilaku, dan kontribusi sosial mahasiswanya. Dengan demikian, PTIQ berkomitmen melahirkan generasi yang mampu memadukan iman, ilmu, dan amal dalam setiap aspek kehidupan.
“Etos Qurani dalam pola pikir, perilaku, dan kontribusi sosial mahasiswa terus ditanamkan untuk membentuk generasi yang mampu memadukan iman, ilmu, dan amal,” ujar Menag.
Di akhir sambutannya, Menag menyampaikan apresiasi atas capaian PTIQ yang hingga kini tercatat sebagai satu-satunya perguruan tinggi yang tidak pernah mengalami penurunan jumlah mahasiswa. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa kehadiran PTIQ semakin relevan dan diminati oleh masyarakat luas. (SC03)

