Medan – Da’i kondang Sumatera Utara, H. Muhammad Daud Siagian, yang lebih dikenal sebagai HM Daud Sagitaputra, MA, resmi meraih gelar Doktor Komunikasi dan Penyiaran Islam setelah menjalani sidang terbuka promosi doktor di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Jalan Willem Iskandar, Medan, Senin (2/2/2026).
Sidang promosi doktor tersebut dipimpin langsung oleh Rektor UINSU Prof. Dr. Nurhayati, MAg, dengan sekretaris sidang Prof. Dr. Hasan Sazali, MAg yang juga Dekan FDK UINSU. Suasana sidang berlangsung dinamis dan menarik, terlebih karena disertasi yang diangkat promovendus mengulas figur legendaris Sumatera Utara yang dikenal dengan julukan “Sahabat Semua Suku”.
Dalam disertasinya berjudul “Komunikasi Politik H. Syamsul Arifin, SE dalam Membangun Citra Positif di Kalangan Lintas Suku di Sumatera Utara”, Daud Sagitaputra mengkaji secara mendalam strategi komunikasi politik mantan Gubernur Sumatera Utara H. Syamsul Arifin, SE, yang juga pernah menjabat Bupati Langkat dua periode (1999–2004 dan 2004–2008), serta Gubernur Sumut periode 2008–2011. Syamsul Arifin wafat pada 23 Oktober 2023.
Majelis penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Katimin, MAg, Dr. Winda Lustiawan, MA, Prof. Dr. Hasan Sazali, MAg, Prof. Dr. Hasrat Efendi Samosir, MA, Dr. Sahdin Hasibuan, MAg, serta KRT Dr. H. Hardi Mulyono K. Surbakti, SE, MAP, mengajukan sejumlah pertanyaan kritis dan menukik terkait substansi, metodologi, serta relevansi disertasi tersebut.
Dalam pemaparannya, Daud menjelaskan bahwa ia telah mengenal H. Syamsul Arifin sejak 1992, saat almarhum menjabat Ketua DPD KNPI Sumut. Menurutnya, Syamsul bukan hanya seorang pemimpin, tetapi sosok manusiawi yang tulus membangun relasi lintas identitas.
“Bang H. Syamsul selalu mendengar sebelum memutuskan. Itu membuat semua kelompok merasa dihargai. Bagi beliau, keberagaman Sumut bukan potensi konflik, melainkan kekuatan kepemimpinan. Dari situlah lahir julukan Sahabat Semua Suku, dan saya merasa penting menuliskan kajian akademik tentang komunikasi politik beliau,” ujar Daud.
Julukan Sahabat Semua Suku, lanjut Daud, pertama kali dicetuskan oleh H. Martius Latuperissa, Ketua FKPPI Sumut saat itu, ketika berbagai etnis dan suku kerap berkumpul di rumah H. Syamsul Arifin. Julukan tersebut kemudian melekat secara alami karena lahir dari pengakuan sosial, bukan slogan politik.
“Sumatera Utara itu kompleks. Jika pemimpinnya tidak punya kepekaan sosial, gesekan mudah terjadi. Syamsul Arifin memahami sosiologi politik masyarakat Sumut: tampak keras di luar, tapi hangat di dalam. Ia mengutamakan dialog, pendekatan tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat,” tutur Daud yang lahir di Ujung Padang, Aek Natas, Labuhanbatu Utara, 1 Februari 1970.
Penelitian tersebut bertujuan menganalisis bagaimana komunikasi politik H. Syamsul Arifin mampu membangun citra positif di tengah masyarakat lintas suku di Sumatera Utara. Hasil riset menunjukkan keberhasilan tersebut bertumpu pada komunikasi interpersonal, sensitivitas budaya lokal, serta pendekatan dialogis yang mengedepankan umpan balik masyarakat.
“Strategi komunikasi beliau merefleksikan model komunikasi dua arah simetris (James Grunig) dan high-context communication (Edward T. Hall), yang menekankan pentingnya konteks budaya dalam penyampaian pesan politik,” jelas Kepala Sentra Layanan Universitas Terbuka (Salut) Abatasa Medan ini.
Koordinator Forum Da’i Sahabat Polisi Sumut tersebut juga menilai gaya kepemimpinan Syamsul Arifin sangat inklusif dan humanis. Ia mempraktikkan kepemimpinan transformasional dengan menonjolkan keteladanan, komunikasi santun, serta nilai-nilai Islam seperti shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Cara komunikasinya membumi, menggunakan bahasa daerah, humor lokal, dan menyesuaikan budaya audiens.
“Di komunitas Batak beliau fasih berlogat Batak, di tengah masyarakat Tionghoa menunjukkan penghormatan budaya, dan dalam komunitas Minang mengutip pepatah adat. Pendekatan ini membuatnya diterima luas, dengan pesan utama: masyarakat tidak boleh lapar, tidak boleh bodoh, dan tidak boleh sakit,” urai Daud yang juga dosen UINSU.
Berbagai pertanyaan majelis penguji mampu dijawab Daud Sagitaputra dengan lugas, argumentatif, dan sesekali diselingi humor khas da’i, namun tetap sarat makna.
Setelah sidang diskors beberapa menit, Sekretaris Sidang Prof. Dr. Hasan Sazali, MAg mengumumkan bahwa promovendus Muhammad Daud Siagian dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Doktor Komunikasi dan Penyiaran Islam dengan IPK 3,64 (Sangat Memuaskan). Daud tercatat sebagai doktor ke-163 di UINSU.
Dalam sambutannya, Rektor UINSU Prof. Dr. Nurhayati, MAg menyampaikan apresiasi atas ketekunan dan ketangguhan akademik Dr. HM Daud Sagitaputra yang berhasil menyelesaikan studi doktoral dalam waktu panjang. Secara keilmuan, rektor menilai doktor baru tersebut telah sangat matang.
Rektor juga menyampaikan penghargaan kepada istri promovendus, Sujanna Astuti Siregar, SPd.AUD, MPsi, atas dukungan penuh selama proses studi. “Di balik kesuksesan seorang suami, selalu ada istri yang menjadi penopang utama,” ujar rektor.
Kepada empat putra-putri serta para menantu HM Daud Siagian, rektor berharap keberhasilan tersebut menjadi inspirasi dalam menuntut ilmu.
“Di usia yang tidak lagi muda, Buya HM Daud mampu menyelesaikan pendidikan doktor. Semoga anak-anak dan menantu bisa melampaui capaian beliau,” tuturnya. (SC08)






















