Medan – Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Mohammad Basyuni, S.Hut., M.Si., Ph.D., membuka Forum Kolaborasi Internasional dan Diseminasi Hasil Observasi Awal bertajuk “Dari Kerentanan Menuju Ketangguhan: Kolaborasi Indonesia–Malaysia dalam Membangun Komunitas Siaga Banjir di Desa Padang Tualang”, Jumat (31/7/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat ini mempertemukan akademisi Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) guna memperkuat kolaborasi dalam membangun ketangguhan masyarakat pascabanjir di Kabupaten Langkat melalui pendekatan ilmiah berbasis bukti.
Dalam sambutannya, Prof. Mohammad Basyuni menegaskan pentingnya sinergi lintas negara, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam menghasilkan solusi yang berdampak nyata bagi wilayah rawan bencana. Menurutnya, kolaborasi Indonesia–Malaysia diharapkan tidak hanya memperkaya kajian akademik, tetapi juga melahirkan rekomendasi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat menghadapi banjir.
Pada forum tersebut, Dosen USU Destanul Aulia memaparkan hasil observasi awal di Desa Padang Tualang yang menunjukkan masyarakat memiliki modal sosial yang kuat, namun masih menghadapi berbagai kerentanan pada aspek sanitasi, kesehatan, kesiapsiagaan bencana, dan kapasitas adaptasi.
Dari aspek lingkungan, tim menemukan masyarakat mengandalkan sumur bor berkedalaman sekitar 100 meter sebagai sumber air utama. Ketersediaan air bersih dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun kualitas air belum selalu stabil sehingga sebagian warga memilih menggunakan air kemasan atau air galon untuk konsumsi.
“Sebagian besar rumah sudah memiliki jamban sehat, septic tank, dan tempat mencuci tangan. Namun saluran drainase masih belum memadai sehingga aliran air tidak lancar dan belum tersedia saluran khusus pembuangan air limbah rumah tangga,” ujar Destanul.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, hingga meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan.
Observasi juga menunjukkan banjir memunculkan ancaman kesehatan yang cukup besar. Genangan air yang bertahan lama dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, sementara tumpukan sampah, lumpur, pencemaran sumur, limbah ternak, hingga bangkai hewan meningkatkan risiko penyebaran penyakit seperti demam berdarah, malaria, chikungunya, diare, disentri, demam tifoid, dermatitis, infeksi luka, ISPA, hingga leptospirosis.
Selain kesehatan, penelitian juga menyoroti ketahanan pangan masyarakat. Sebagian besar warga memanfaatkan pekarangan untuk menanam sayuran, tanaman buah, serta memelihara ternak. Namun saat banjir terjadi, kebun pekarangan ikut rusak sehingga mengganggu produktivitas rumah tangga.
Tim peneliti juga menemukan kesiapsiagaan bencana masih menjadi tantangan karena belum adanya jalur evakuasi yang jelas, titik kumpul yang aman, posko pengungsian resmi, maupun sistem peringatan dini yang optimal. Meski demikian, masyarakat dinilai memiliki modal sosial yang kuat melalui semangat gotong royong, solidaritas, serta dukungan tokoh masyarakat dan pemerintah desa.
Sementara itu, dosen Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Dr. Nor Diana Mohd. Idris, menjelaskan pendekatan Livelihood Vulnerability Index (LVI) digunakan untuk mengukur tingkat kerentanan rumah tangga terhadap banjir dan berbagai guncangan lainnya berdasarkan tingkat paparan, sensitivitas, serta kapasitas adaptif masyarakat.
Menurutnya, tujuan utama pendekatan tersebut bukan sekadar mengidentifikasi tingkat kerentanan, melainkan memahami penyebab kerentanan sehingga intervensi yang disusun benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Kita tidak boleh membuat intervensi hanya berdasarkan persepsi. Setelah tingkat kerentanan diukur melalui data kuantitatif, peneliti harus kembali berdiskusi dengan masyarakat untuk memastikan hasil pengukuran benar-benar menggambarkan kondisi yang mereka alami,” ujarnya.
Melalui kolaborasi USU dan UKM ini, hasil penelitian diharapkan tidak hanya menjadi publikasi ilmiah, tetapi juga menjadi dasar penyusunan kebijakan dan program pemberdayaan masyarakat yang mampu meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat ketangguhan komunitas, serta mempercepat pemulihan kehidupan warga di kawasan rawan banjir, khususnya di Desa Padang Tualang, Kabupaten Langkat. (SC03)

