Aceh Jaya – Di tengah kesibukan menjalani pendidikan agama di pesantren, Rendi Noverdi (19), santri Yayasan Dayah Bahrul ‘Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI) Mesja Lamno, Aceh Jaya, mengalami demam yang cukup mengganggu aktivitasnya. Namun berkat keaktifan kepesertaannya dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebagai peserta segmen PBI-JK, Rendi dapat segera mendapatkan perawatan medis tanpa harus pulang kampung atau membebani orang tuanya.
“Saya tiba-tiba sakit demam. Biasanya kalau sakit ringan seperti ini saya tidak pulang ke tempat asal, hanya berobat di puskesmas karena tidak ingin merepotkan orang tua. Sebelumnya saya ikut kegiatan takziah bersama santri lain. Setelah sampai di asrama, saya mulai merasa pusing dan badan panas,” ujar Rendi, Jumat (7/11).
Rendi menduga penyakitnya disebabkan kelelahan setelah mengikuti sejumlah kegiatan luar pesantren, termasuk takziah yang mengharuskannya bepergian cukup jauh. Selama menjalani pengobatan, ia mendapat dukungan dari koordinator pesantren dan teman-teman yang turut mendampingi.
“Saya merasa sakit ini karena aktivitas luar yang cukup padat. Tapi alhamdulillah, dengan adanya JKN, saya bisa langsung berobat ke puskesmas tanpa harus pulang kampung atau membebani orang tua. Selama dirawat pun saya tidak sendiri, selalu ditemani koordinator pesantren dan teman-teman. Dukungan seperti itu sangat berarti bagi saya,” jelasnya.
Meskipun akses terhadap teknologi di pesantrennya terbatas karena larangan penggunaan telepon genggam, hal itu tidak menghalangi Rendi untuk mendapatkan layanan kesehatan. Ia tetap bisa memanfaatkan Program JKN dengan mudah hanya dengan membawa KTP atau Kartu Keluarga saat berobat.
“Saya belum punya handphone sendiri, jadi belum bisa pakai aplikasi Mobile JKN. Di pesantren juga kami tidak diperbolehkan menggunakan ponsel. Tapi waktu saya sakit, cukup membawa KTP atau Kartu Keluarga ke puskesmas. Prosesnya mudah dan cepat, langsung dilayani tanpa harus mengurus banyak hal. Jadi meskipun tidak bisa akses aplikasi, saya tetap bisa merasakan manfaat JKN secara langsung,” ungkapnya.
Selama dirawat di puskesmas, Rendi juga merasakan pelayanan yang ramah dan profesional dari tenaga medis. Ia mengaku merasa tenang meski jauh dari orang tua.
“Dokternya menjelaskan kondisi saya dengan sabar dan mudah dipahami. Perawatnya juga sangat perhatian, rutin memeriksa dan memastikan saya nyaman selama dirawat. Meskipun saya jauh dari orang tua, saya merasa tenang karena ditangani oleh tenaga medis yang profesional dan peduli,” tambahnya.
Sebagai santri dengan aktivitas padat, Rendi menyadari pentingnya menjaga kesehatan dan memiliki perlindungan seperti JKN. Pengalaman jatuh sakit menjadi pengingat baginya akan pentingnya memastikan status kepesertaan JKN tetap aktif agar layanan kesehatan bisa diakses kapan pun dibutuhkan.
“Bagi saya, penting sekali terdaftar dan aktif sebagai peserta JKN. Kita tidak pernah tahu kapan akan sakit, dan kalau sudah sakit tentu butuh penanganan cepat. Saya sudah merasakan manfaatnya. Harapan saya, program JKN ini terus berlanjut dan semakin baik ke depannya, supaya makin banyak orang yang terbantu, terutama yang tinggal jauh dari rumah seperti saya,” tutupnya. (SC03)






















