Site icon SUMUTCYBER.COM

Jejak Anak Polisi: Syaiful Syafri dan Pengabdian Tanpa Sekat untuk Polri

Medan – Bagi Syaiful Syafri, kehidupan bukan sekadar perjalanan pribadi. Ia adalah kisah panjang tentang darah, disiplin, dan dedikasi yang mengalir dari generasi ke generasi. Lahir dan tumbuh di tengah lingkungan kepolisian, Syaiful tak pernah benar-benar jauh dari dunia yang membentuk karakter dan jalan hidupnya: Polri.

Ia adalah cucu dari almarhum Kompol Buyung, yang menutup masa dinas sebagai Kapolsek Tanjung Morawa, Deli Serdang. Dari garis ayah, ia merupakan putra pertama almarhum Aiptu Indon Sipahutar, seorang juru periksa Polri yang mengabdikan diri hingga akhir tugasnya di Polsek Bahorok. Sementara sang ibu, Nurhani, menjadi sosok penyeimbang dalam kehidupan keluarga yang lekat dengan disiplin aparat.

Syaiful lahir pada 23 Oktober 1958 di rumah dinas Kapolsek Batang Kuis—sebuah awal kehidupan yang secara simbolik sudah menempatkannya dalam lingkaran institusi kepolisian. Bahkan sejak bayi, ia telah akrab dengan dinamika tugas seorang polisi. Baru berusia tiga bulan, ia ikut orang tuanya pindah ke asrama Polres Binjai, mengikuti mutasi sang ayah di bagian Reskrim.

Masa kecilnya berpindah-pindah mengikuti penugasan ayahnya: dari Binjai ke Tanjung Pura, lalu ke Sawit Seberang. Ia menempuh pendidikan dasar di lingkungan asrama polisi di Tanjung Beringin, Langkat—tempat di mana nilai-nilai kedisiplinan dan kebersamaan mulai tertanam kuat.

Perpindahan kembali terjadi pada 1971, saat ayahnya kembali bertugas di jajaran Reskrim Polres Langkat. Syaiful menamatkan pendidikan di SMP Negeri 2 Binjai pada 1973, kemudian melanjutkan ke SMA Negeri 1 Binjai. Jejak pendidikan ini menjadi fondasi awal sebelum ia melangkah ke dunia akademik di IKIP Medan.

Namun, hidup tak selalu berjalan mulus. Saat ia memasuki perguruan tinggi, sang ayah pensiun dari kepolisian dan beralih menjadi Kepala Desa di Tanjung Ibus, Langkat. Dari fase ini, Syaiful belajar tentang pengabdian dalam bentuk lain: melayani masyarakat dari akar rumput.

Selepas menamatkan pendidikan di IKIP Medan, kariernya berkembang pesat. Ia dipercaya menjadi Penatar Nasional di BP-7 Sumatera Utara atas penugasan Kepala BP-7 Pusat saat itu, Letjen Sarwo Edhie Wibowo. Di sinilah kapasitasnya sebagai pendidik dan pembina mulai terasah.

Namun, jejaknya sebagai bagian dari keluarga besar Polri tak pernah pudar. Tahun 1995 menjadi tonggak penting ketika ia terlibat dalam pembangunan Taman Makam Pahlawan Bukit Barisan di Medan. Proyek ini didukung dana sosial dari Gubernur Sumatera Utara saat itu, Raja Inal Siregar, dan diresmikan setahun kemudian oleh Menteri Sosial Inten Soeweno. Saat itu, Syaiful menjabat sebagai Kepala Diklat Sosial Wilayah Sumatera di Departemen Sosial.

Memasuki tahun 2000, kecintaannya terhadap Polri menemukan bentuk yang lebih terorganisir. Bersama sejumlah tokoh, termasuk Riswandi Husin, ia turut merintis dan meresmikan berdirinya Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBPP Polri) di Sumatera Utara di bawah kepemimpinan Kapolda Sumut Irjen Pol Sutiono. Dari awalnya 17 resor, organisasi ini berkembang menjadi wadah penting bagi anak-anak Polri di daerah.

Karier birokrasi Syaiful juga mencatat lompatan signifikan. Tahun 2008, ia dipercaya menjadi Penjabat Bupati Batu Bara, daerah pemekaran dari Asahan. Sebelumnya, saat menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan, ia aktif membantu pengembangan sekolah-sekolah Bhayangkari di Sumut—sebuah bentuk kepedulian yang berakar dari kedekatannya dengan dunia pendidikan dan keluarga besar Polri.

Di masa kepemimpinan Gubernur Sumatera Utara Rudolf Pardede dan Syamsul Arifin, Syaiful turut mendorong dukungan pemerintah daerah terhadap tugas-tugas kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Hasilnya, melalui APBD, pemerintah provinsi memberikan hibah sarana transportasi untuk operasional Polda Sumut.

Peran Syaiful dalam KBPP Polri semakin menguat saat ia dipercaya sebagai Ketua KBPP Polri Sumut. Ia dilantik oleh Kapolda Sumut Irjen Pol Eka Hadi Sutejo. Di masa kepemimpinannya, organisasi ini berkembang pesat—dengan terbentuknya 23 resor, ratusan sektor, hingga jaringan Sibhara di tingkat desa.

Program-programnya tak sekadar seremonial. Ia menggagas kegiatan napak tilas, ziarah, penghijauan, hingga kompetisi olahraga. Lebih dari itu, ia membuka peluang kerja bagi anak-anak Polri yang kurang beruntung secara pendidikan—menempatkan mereka di sektor perkebunan hingga pekerjaan satuan pengamanan di perumahan.

Pada masa Kapolda Sumut Irjen Pol Raden Budi Gunawan, Syaiful bahkan menulis dan menerbitkan buku berjudul “Inti Polri Ada di Binmas”, yang lahir dari pengalamannya memberikan ceramah kepada ribuan personel kepolisian, mulai dari Kapolsek hingga Bhabinkamtibmas di Aula Tribrata.

Menjelang akhir masa jabatannya sebagai Ketua KBPP Polri Sumut pada 2019, ia kembali menorehkan karya dengan menulis biografi Irjen Pol Agus Andrianto berjudul “Sang Pemimpin Pemersatu Keberagaman.”

Syaiful Syafri bukan sekadar bagian dari keluarga polisi. Ia adalah representasi dari nilai-nilai yang diwariskan: pengabdian, loyalitas, dan tanggung jawab. Dari asrama ke asrama, dari ruang kelas hingga panggung birokrasi, ia terus menjaga satu hal yang diyakininya sejak kecil—bahwa kehormatan institusi bukan hanya dijaga oleh mereka yang berseragam, tetapi juga oleh mereka yang tumbuh dan percaya di dalamnya. (SC08)

Exit mobile version