MATAHARI siang (Rabu, 4 Februari 2026) itu panasnya bukan main, saat Tim Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) menyusuri jalan menuju Desa Serba Kec. Bandar Pusaka Kab. Aceh Tamiang. Sisa-sisa banjir masih terlihat jelas di kiri kanan.
Di tengah kondisi itu, sejumlah anak-anak tetap belajar di bangunan sekolah yang selamat dari banjir besar kemarin. Mereka duduk beralaskan tikar seadanya. Senyum mereka sesekali tampak sumringah saat menyambut rombongan YAICI.
Tak jauh dari sekolah, rumah-rumah warga tak lagi berdiri kokoh. Kebanyakan dari papan. Miring. Lapuk. Ada yang ditopang kayu agar tak roboh. Ada juga yang dibiarkan begitu saja, karena tak tahu harus mulai dari mana memperbaikinya.
Intinya, desa ini masih berantakan. Masih kupak-kapik. Belum rapi, belum utuh. Orang-orang di sini masih berharap bantuan, menunggu rumah layak, menunggu hari yang lebih baik. Sebab, kehidupan 215 kepala keluarga di desa ini benar-benar belum kembali normal. Sebagian warga masih bertahan di posko pengungsian, sebagian lain pulang ke rumah yang tersisa, meski seadanya.
“Tetaplah bersama kami. Jangan bosan melihat kami. Do’akan kami lekas pulih dan bangkit, sehingga bisa kembali normal,” kata Muhammad Yanis, Kepala Desa Serba, saat menerima Tim YAICI.
Dia menuturkan, listrik kini sudah menyala. Sumur bor bisa dipakai. Tapi airnya tak layak diminum. Untuk minum dan masak, warga harus membeli air isi ulang. Fasilitas MCK baru tersedia di beberapa titik dan belum sepenuhnya mencukupi.
Di balik pemulihan fisik, persoalan kesehatan juga menghantui. Anak-anak banyak mengalami batuk dan penurunan daya tahan tubuh. Bantuan Sembako seperti beras dan minyak goreng masih tersedia, namun kebutuhan pangan bergizi menjadi tantangan tersendiri.
Lewat Literasi Kreatif, Mahasiswa Internasional UMSU Bangkitkan Harapan Anak Korban Banjir
“Warga rindu sayur-sayuran hijau. Dulu warga menanam sendiri, sekarang belum bisa,” tutur Yanis.
Di tengah kondisi itu, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bergerak menyalurkan bantuan ke dua wilayah terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang.
Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudistira, menjelaskan penyaluran bantuan difokuskan di Desa Serba, Kecamatan Bandar Pusaka, dan Desa Pematang Durian Kec. Sekerak. Masing-masing desa mendapat bantuan sesuai kebutuhan paling mendesak yang ditemui di lapangan.
“Di Desa Serba, kami fokus pada paket anak dan balita serta bantuan penerangan. Sementara di Pematang Durian, bantuan kami arahkan pada penyediaan air bersih untuk fasilitas umum,” ujar Satria, Rabu (4/2/2026).
Tak hanya logistik, YAICI juga menyiapkan program trauma healing bagi sekitar 80 hingga 100 anak balita dan pelajar sekolah dasar di Pematang Durian, yang dijadwalkan berlangsung pada 5 Februari mendatang. Program ini diharapkan dapat membantu anak-anak pulih, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental pascabencana.
Menurut Satria, perhatian terhadap wilayah terdampak tidak boleh berhenti terlalu cepat. Bantuan yang sudah masuk memang membantu, namun belum sepenuhnya menjawab kebutuhan warga.
“Kami berharap pemerintah tetap fokus ke sini. Bantuan memang sudah dikirimkan, tapi kenyataannya masih sangat dibutuhkan,” katanya.
Ia menekankan bahwa kebutuhan paling krusial saat ini ada pada pemenuhan gizi anak-anak dan balita. Dari hasil pantauan dan dialog bersama kepala desa, diketahui bahwa akses terhadap makanan sehat masih sangat terbatas.
“Sayur-sayuran dan ikan masih sulit didapat. Kalau bantuan yang diberikan terlalu lama berupa makanan instan seperti mi atau susu kental manis, itu bisa mengubah kebiasaan makan anak-anak. Ketika kondisi sudah pulih, mereka justru tidak kembali ke pola makan sehat,” jelas Satria.
Karena itu, ia berharap pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada kecepatan distribusi bantuan, tetapi juga pada kualitas asupan dan keberlanjutan kesehatan anak-anak di wilayah terdampak. (SC03)

