Site icon SUMUTCYBER.COM

Empat Dokter Internship Gugur, DPR RI Dorong Pembentukan Tim Investigasi

Poster kabar duka yang dipajang di status WhatsApp salah satu dokter di Medan. (Ist)

Medan – Kabar duka cita bertajuk “Telah Gugur Pahlawan dalam Balutan Jas Putih” yang memuat empat nama dokter muda peserta program internship yang telah wafat beredar di sejumlah status WhatsApp para dokter di Medan.

Keempat dokter tersebut adalah dr. Edgar Bezaliel Hartanto, dr. Andito Muhammad Wibisono, dr. Kartika Ayu Permatasari, dan dr. Myta Aprilia Azmy. Mereka diketahui merupakan dokter internship yang sedang menjalani masa pengabdian di berbagai rumah sakit di Indonesia.

Dalam poster yang beredar, disebutkan para dokter tersebut gugur dalam kurun waktu berbeda, mulai dari Februari hingga Mei 2026. Hingga kini, belum ada keterangan resmi terkait penyebab wafatnya keempat dokter tersebut. Namun, disebut-sebut meninggalnya salah satu dari dokter tersebut karena diduga akibat beban kerja sehingga ini menjadi sorotan Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher.

Dia menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya sejumlah dokter peserta program internship dalam beberapa waktu terakhir. Ia menilai rangkaian kejadian ini harus menjadi alarm untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem internship di Indonesia.

“Ini bukan sekadar musibah, tetapi dapat dimaknai sebagai sinyal adanya persoalan sistemik yang harus segera dibenahi. Para dokter muda tidak boleh menjadi korban akibat sistem yang kurang sempurna,” kata Netty Prasetiyani Aher kepada Parlementaria, dilansir dari laman dpr.go.id, Selasa (5/5/2026).

Terkait hal ini, Netty menyoroti ketidakjelasan status peserta internship yang berada di antara posisi sebagai peserta didik dan tenaga layanan kesehatan. “Kondisi ini berdampak pada lemahnya perlindungan hak, termasuk terkait jam kerja, jaminan kesehatan, serta kepastian kesejahteraan,” tuturnya.

Selain itu, Netty juga menekankan pentingnya evaluasi terhadap sistem supervisi dan pendampingan di lapangan. Program internship disebut seharusnya menjadi proses pembelajaran untuk membangun kompetensi dan kemandirian, bukan menggantikan peran tenaga medis penuh tanpa pengawasan memadai.

“Banyak laporan yang menunjukkan beban kerja tinggi, bahkan melebihi batas, serta minimnya pendampingan. Ini berisiko tidak hanya bagi dokter muda, tetapi juga bagi keselamatan pasien,” tegas Netty.

Anggota Komisi Kesehatan DPR RI ini pun menyoroti lemahnya sistem pengawasan dan pelaporan terhadap kondisi dokter magang. Netty menyebut masih banyak peserta internship yang enggan melaporkan kondisi kerja yang tidak ideal karena khawatir berdampak pada penilaian dan kelulusan mereka.

“Untuk itu, kami mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, untuk segera melakukan langkah konkret. Antara lain dengan melakukan evaluasi nasional terhadap seluruh wahana internship, memperkuat sistem supervisi, serta memastikan adanya mekanisme pengaduan yang aman dan independen,” ujar Legislator dari Dapil Dapil Jawa Barat VIII itu.

Netty juga mendorong pembentukan tim investigasi yang transparan dan akuntabel guna mengungkap penyebab pasti dari rangkaian kematian dokter peserta magang tersebut, sekaligus merumuskan perbaikan kebijakan ke depan.

“Keselamatan dokter adalah bagian dari keselamatan pasien. Kita tidak boleh menutup mata. Ini momentum untuk melakukan pembenahan total,” pungkasnya. (SC03)

Exit mobile version