Medan – Musyawarah Wilayah (Muswil) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sumatera Utara resmi digelar di Hotel Le Polonia, Medan, Sabtu (19/7/2025). Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Besar IDI (PB IDI), dr. Hamzah Hasan, MM, yang hadir mewakili Ketua Umum PB IDI.
Muswil ini dilaksanakan oleh tim caretaker yang dibentuk PB IDI melalui Tim Denkardekar, guna memastikan proses demokrasi organisasi berjalan tepat waktu dan sah sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) IDI.
Perwakilan Tim Caretaker Muswil IDI Sumut, dr. Utama Abdi Tarigan, SpB-RE (Subspesialis MO-K), dalam sambutannya menegaskan bahwa pelaksanaan Muswil merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlangsungan dan marwah organisasi di tengah berbagai dinamika yang terjadi.
“Kami sadar pelaksanaan acara ini mungkin tampak tergesa-gesa, namun semua telah kami persiapkan secara serius,” ujarnya, sembari menyampaikan permohonan maaf atas kekurangan selama persiapan, serta apresiasi kepada seluruh pihak yang berkontribusi, termasuk para dokter muda dalam kepanitiaan.
Disebutkan, hingga hari pelaksanaan Muswil, sebanyak 21 dari 29 cabang IDI di Sumatera Utara telah hadir dan berpartisipasi. Kehadiran para ketua cabang dinilai penting sebagai bentuk komitmen menjaga keberlangsungan organisasi.
Wakil Ketua Umum PB IDI, dr. Hamzah Hasan, MM, dalam sambutannya mengusung semangat kebersamaan melalui tema “Bermusyawarah Bermufakat untuk Membangun Soliditas Satu IDI yang Berkemajuan.”
“Profesi kita tengah menghadapi tantangan besar, terutama sejak diberlakukannya Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa PB IDI telah mengajukan uji materi terhadap 25 pasal dalam UU tersebut ke Mahkamah Konstitusi. Proses persidangan telah selesai dan saat ini tengah menunggu keputusan akhir.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya penguatan struktur dan strategi organisasi dalam menghadapi perubahan sistem dan regulasi nasional yang semakin berbasis teknologi.
“Kami berharap Muswil ini menjadi ruang konsolidasi dan evaluasi, untuk melahirkan pemimpin yang mampu menjaga kemurnian profesi dan memperjuangkan kepentingan sejawat,” tuturnya.
Dalam forum Muswil tersebut, Dr. dr. Ery Suhaymi, SH, MH, M.Ked(Surg), Sp.B, FINACS, FICS akhirnya terpilih secara aklamasi sebagai Ketua IDI Wilayah Sumatera Utara periode 2025–2028, menggantikan dr. Ramlan Sitompul, SpTHT-KL.
Dalam pernyataan perdananya,
dia menyampaikan bahwa tantangan IDI ke depan itu semakin berat.
“Saya yakin dengan kesolitan dan kebersamaan, kita bisa menghadapi maupun melalui untuk kedepannya. Kita akan kembali membawa IDI Sumut menjadi organisasi profesi yang diakui oleh masyarakat,” ujarnya.
Dijelaskan Ery, dirinya mengambil visi membangun IDI Sumut dalam kesejawatan. Dirinya mengajak seluruhnya untuk kembali bersama menyusun ‘puzzle’ yang berhamburan menjadi lukisan yang indah.
“Ada tiga pilar yang ingin saya bawa di kepengurusan yang akan datang, pertama adalah penguatan profesi, kedua inovasi, dan ketiga bersinergi. Ketiga pilar itu sebenarnya sudah saya jalankan di kepengurusan IDI Cabang Medan,” tuturnya.
Pria yang sebelumnya juga menjabat sebagai Ketua IDI Cabang Medan turut meminta dukungan dari seluruh IDI Cabang yang ada di Sumut.
“IDi Wilayah Sumut ini tidak ada apa-apanya kalau tidak ada dukungan dari cabang. Kita akan memulai kembali, tapi dengan semangat kebersamaan, saya yakin kita kedepannya pasti akan bisa melewati semuanya,” ucapnya.
Direktur Rumah Sakit Regina Maris tersebut juga menegaskan, dirinya bukan yang terbaik diantara teman dan senior sejawat ketua cabang, sehingga amanah tersebut akan dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Kepada wartawan, Ery juga akan membenahi pola koordinasi antara IDI wilayah dan seluruh cabang di Sumut, serta memperjuangkan kesejahteraan dan pemerataan distribusi dokter ke berbagai daerah.
“Kita akan perkuat lagi koordinasi IDI wilayah dengan cabang. Ini menjadi prioritas pembenahan kami,” ujarnya.
Ery juga menyoroti tantangan serius terkait jumlah dan distribusi tenaga medis. Ia menyebut rasio ideal dokter dengan jumlah penduduk adalah 1:1.000, namun di banyak wilayah Sumut masih jauh dari angka tersebut.
“Di beberapa daerah, rasio dokter terhadap jumlah penduduk masih 1:1.500. Artinya kita kekurangan SDM dokter. Pemerataannya juga belum merata,” ungkapnya.
Sementara itu, anggota IDI sekaligus anggota DPRD Kota Medan, dr. Ade Taufiq, SpOG, turut hadir dalam Muswil tersebut, mengatakan, tantangan IDI ke depan akan semakin berat, terutama dalam menghadapi perubahan regulasi, dinamika pelayanan kesehatan, serta harapan publik yang terus meningkat.
“IDI ke depan akan menghadapi tekanan yang tidak ringan. Maka kekompakan organisasi harus menjadi prioritas utama, bukan ego pribadi atau kelompok,” tegasnya kepada wartawan.
Ia berharap kepengurusan baru di bawah kepemimpinan Dr. Ery Suhaymi dapat mengedepankan kolaborasi dan keterbukaan. “Semua harus diajak bergerak bersama. Dengan soliditas, kita bisa menghadapi tekanan eksternal dengan kepala tegak,” ujarnya. (SC03)

