Yogyakarta – Bangunan tua di Jalan Bintaran No. 9, Yogyakarta, mungkin tampak bersahaja di tengah modernitas kota. Bangunan tua itu berdiri tenang, seolah tak terusik oleh lalu lintas zaman yang berlalu di sekitarnya. Delapan puluh tahun bukan usia singkat bagi sebuah kantor pemerintahan, terlebih bagi Kantor Pertama Kementerian Agama yang menjadi saksi awal pengelolaan urusan keagamaan di masa-masa awal republik.
Dari luar, bangunan tersebut tampak sederhana. Dinding tebal bercat putih kebiruan telah memudar, sebagian mengelupas, memperlihatkan lapisan waktu yang tak bisa disembunyikan. Pintu dan jendela kayu berwarna hijau tua masih setia berdiri, dengan kisi-kisi khas bangunan lama yang dahulu dirancang untuk sirkulasi udara alami. Setiap engsel dan kusen menyimpan cerita tentang ribuan orang yang pernah keluar-masuk, membawa harapan, urusan, dan doa.

Masuk ke bagian dalam, langit-langit kayu yang tinggi menghadirkan nuansa masa lampau. Cahaya matahari menyelinap melalui jendela-jendela besar, memantul lembut di lantai, menciptakan bayang-bayang panjang yang seakan menandai perjalanan panjang institusi ini. Di ruangan-ruangan itulah kebijakan keagamaan dirumuskan, pelayanan umat dijalankan, dan roda birokrasi digerakkan dengan keterbatasan sarana, namun penuh dedikasi.
Bangunan ini melewati berbagai periode penting—dari masa awal kemerdekaan, perubahan sistem pemerintahan, hingga dinamika sosial-keagamaan yang terus berkembang. Meski zaman berganti dan gedung-gedung modern tumbuh di sekitarnya, bangunan ini tetap berdiri sebagai pengingat akan fondasi awal Kementerian Agama.

Kini, di usia delapan dekade, kantor tua tersebut bukan sekadar aset fisik. Ia adalah arsip hidup, saksi bisu pengabdian para pendahulu yang membangun pelayanan keagamaan dengan semangat sederhana namun kokoh. Di balik dinding yang mulai rapuh, tersimpan nilai sejarah yang tak ternilai—bahwa pelayanan negara kepada umat pernah dimulai dari ruang-ruang sunyi yang dijaga dengan keikhlasan.
Bagi Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo H.R. Muhammad Syafi’i, dinding-dinding kokoh yang telah berdiri selama delapan dekade ini memancarkan aura.
Sabtu (3/1/2026), momen peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama menjadi ajang “napak tilas” bagi Romo untuk kembali ke titik nol, tempat sejarah institusi ini bermula.

Di gedung inilah, berdasarkan Maklumat Kementerian Agama No. 1 tanggal 14 Maret 1946, Menteri Agama pertama H.M. Rasjidi pernah berkantor dan mengendalikan urusan agama republik yang saat itu masih seumur jagung.
Namun, ada fakta sejarah yang digali kembali oleh Romo Syafi’i saat melihat langsung fisik bangunan tersebut. Gedung bersejarah ini ternyata berdiri di atas “Pakualaman Ground” dan penggunaannya merupakan wujud “palilah” (legitimasi izin atau pinjaman tulus) dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam VIII.
“Gedung ini bukan sekadar tumpukan batu bata, melainkan bukti otentik bagaimana sejak awal pemerintah pusat dan keraton, ulama dan umara, telah berkolaborasi dan bersinergi,” ujar Romo.
Pemberian “palilah” dari Paku Alam VIII kala itu menunjukkan dukungan total elemen bangsa agar Kementerian Agama dapat segera bekerja menjaga moral dan spiritual masyarakat di tengah masa revolusi.
Berdiri di bekas ruang kerja H.M. Rasjidi, Romo kembali teringat pidato sang Menteri Agama pertama tentang “filsafat akal” dan pentingnya Kantor Urusan Agama. Visi Rasjidi kala itu sangat visioner: Kemenag hadir bukan untuk membatasi, melainkan menjamin kemerdekaan beragama. Semangat kerukunan inilah yang menjadi api nilai awal, yang menurut Romo, harus terus dijaga nyalanya hingga usia ke-80 tahun ini.
Bagi Romo, napak tilas ini memberikan pelajaran signifikan. Kolaborasi masa lalu antara Kemenag dan Pakualaman adalah simbol bahwa tugas menyejahterakan masyarakat dan menjaga kokohnya sendi-sendi kehidupan berbangsa tidak bisa dilakukan sendirian. “Jika ditarik ke masa kini, kolaborasi dan penyusunan sistem yang kuat menjadi nilai mutlak. Kita harus mewujudkan negara yang melindungi segenap tumpah darah Indonesia,” tegasnya.
Delapan puluh tahun berlalu, gedung di Jalan Bintaran No. 9 masih berdiri tegak, seolah menolak lupa. Ia menjadi pengingat abadi bagi setiap insan Kemenag untuk terus berjuang dan beramal, melanjutkan estafet pengabdian yang telah dirintis oleh H.M. Rasjidi dan didukung penuh oleh Paku Alam VIII demi kejayaan bangsa. (SC03)
Foto-foto: kemenag.go.id
![]()






















