Gayo Lues – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan pemulihan pascabencana banjir dan longsor di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, berjalan baik dengan kemajuan signifikan. Distribusi logistik semakin lancar, harga kebutuhan pokok relatif stabil, serta layanan dasar masyarakat mulai pulih.
Kepastian tersebut diperoleh setelah Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB (Deputi 3), Mayjen TNI Budi Irawan, kembali menginjakkan kaki di Gayo Lues pada Jumat (30/1) untuk memantau langsung kondisi lapangan sekaligus mengevaluasi progres berjalan tahapan transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan.
Pada bencana banjir dan longsor yang terjadi November 2025, jalur distribusi logistik utama dari Riau dan Medan menuju Gayo Lues melalui Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, terputus akibat longsor di wilayah perbatasan. Sekitar 90 persen kebutuhan logistik masyarakat Gayo Lues bergantung pada jalur tersebut, sehingga terhentinya akses berdampak pada kelangkaan barang dan lonjakan harga hingga berpuluh-puluh kali lipat.
Merespon kondisi tersebut, pemerintah pusat dan daerah melalui BNPB, Kementerian/Lembaga terkait, Dinas Pekerjaan Umum, serta unsur pemerintah daerah melakukan percepatan penanganan dengan membuka kembali akses jalan, melakukan perbaikan infrastruktur terdampak, serta membangun jalur darurat guna memastikan konektivitas distribusi logistik.
Hasil dari upaya tersebut ditinjau langsung oleh Deputi 3 saat melihat aktivitas jual beli di Pasar Terpadu Gayo Lues. Dalam kesempatan tersebut, Deputi 3 memastikan ketersediaan stok bahan kebutuhan pokok serta stabilitas harga di tingkat pedagang sebagai indikator awal pemulihan ekonomi masyarakat.
Di sela peninjauan pasar, Deputi 3 menyempatkan diri berdialog langsung dengan para pedagang untuk memperoleh gambaran kondisi pasokan dan harga barang. Para pedagang menyampaikan bahwa berbagai jenis kebutuhan pokok dan barang dagangan telah tersedia secara normal. Harga kebutuhan masyarakat pun relatif terjangkau dan tidak terjadi inflasi sebagai dampak dari bencana.
“Harga sudah relatif normal setelah distribusi pasokan barang dapat kembali lancar. Memang masih ada kenaikan harga daging ayam karena pasokan masih diambil dari Medan dan Riau karena peternakan di Aceh rata-rata terdampak bencana. Akan tetapi, kenaikan harga masih dalam rentang wajar, secara umum kita berharap ini menjadi indikator awal pemulihan di sektor ekonomi Gayo Lues pascabencana,” jelas Budi.
Usai memastikan pemulihan sektor logistik dan ekonomi, Deputi Bidang Penanganan Darurat melanjutkan agenda ke SMP N 1 Dabun Gelang. Proses belajar mengajar diketahui telah kembali berjalan normal, meskipun masih diperlukan dukungan sarana penunjang, khususnya peralatan olahraga bagi siswa. Kebutuhan tersebut akan dikoordinasikan dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai bagian dari pemulihan sektor pendidikan pascabencana.
Rangkaian agenda selanjutnya diakhiri dengan melihat progress pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak di Desa Rigeb, Kecamatan Dabun Gelang. Di lokasi ini sedang dibangun 133 unit huntara yang mana 25 unit telah selesai dan siap ditempati. Sesuai permohonan masyarakat, sebanyak 2.659 unit huntara akan dan telah dibangun di 20 titik yang tersebar di 7 kecamatan di Kabupaten Gayo Lues.
BNPB menargetkan pembangunan huntara selesai sebelum Ramadan 2026 agar dapat segera ditempati masyarakat sambil menunggu pembangunan hunian tetap (huntap). BNPB juga menekankan pentingnya kesesuaian spesifikasi bangunan dengan kebutuhan dasar penghuni.
BNPB bersama lintas kementerian/lembaga pusat menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi pemerintah daerah dan masyarakat Gayo Lues hingga seluruh tahapan pemulihan pascabencana dapat diselesaikan secara menyeluruh dan berkelanjutan. (SC03)

