Buka Kongres AFEBI XIV, Rektor UINSU: Kampus Harus Hasilkan Solusi Nyata bagi Perekonomian

Medan – Perguruan tinggi, khususnya fakultas ekonomi dan bisnis, dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan berkompetensi akademik, tetapi juga menjadi pusat pengembangan pemikiran, inovasi, penelitian, dan solusi konkret bagi berbagai persoalan ekonomi masyarakat.

Tuntutan tersebut semakin penting di tengah perubahan struktur ekonomi dunia, percepatan transformasi digital, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta tantangan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan, Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag., menegaskan hal itu saat membuka Kongres XIV Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI) di Le Polonia Hotel & Convention Medan, Kamis (5/11/2026).

Menurut Nurhayati, Kongres AFEBI menjadi forum strategis untuk mempertemukan pemikiran, pengalaman, dan praktik terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam merumuskan arah pengembangan pendidikan ekonomi dan bisnis yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Ia menilai, keberadaan AFEBI sebagai wadah kolaborasi antarfakultas ekonomi dan bisnis memiliki posisi penting dalam memperkuat sinergi akademik, meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, sekaligus membangun kontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi nasional.

“Perguruan tinggi harus mampu bergerak dari sekadar menghasilkan pengetahuan menuju institusi yang menciptakan dampak nyata,” tegasnya.

Rektor juga menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam pengembangan ekonomi. Sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, UINSU berkomitmen mengembangkan pendidikan yang mengintegrasikan keunggulan ilmu pengetahuan, nilai keislaman, dan tanggung jawab sosial.

Menurutnya, kemajuan ekonomi tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan angka statistik, tetapi juga dari kemampuan pembangunan menghadirkan keadilan, pemerataan kesempatan, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan kehidupan.

Prinsip tersebut sejalan dengan ekonomi Islam yang menempatkan keadilan, keseimbangan, amanah, dan kemaslahatan sebagai landasan aktivitas ekonomi.

Karena itu, ia memandang kolaborasi antara fakultas ekonomi dan bisnis dengan fakultas ekonomi dan bisnis Islam sebagai kekuatan penting dalam membangun ekosistem pendidikan ekonomi Indonesia yang inklusif, inovatif, dan berdaya saing global.

“Perbedaan perspektif keilmuan bukanlah penghalang untuk berkolaborasi, melainkan kekayaan intelektual yang dapat memperkuat kualitas pemikiran dan menghasilkan pendekatan lebih komprehensif dalam menjawab tantangan pembangunan,” ujarnya.

Nurhayati juga menyambut baik peluncuran AFEBI Research Institute sebagai salah satu agenda penting kongres. Lembaga riset tersebut diharapkan menjadi pusat kolaborasi penelitian, pengembangan rekomendasi kebijakan berbasis bukti, serta penghubung antara dunia akademik, pemerintah, dan sektor industri.

Dengan demikian, hasil penelitian perguruan tinggi tidak berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi dapat diterjemahkan menjadi solusi aplikatif bagi masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Nasional (DPN) AFEBI, Prof. Dr. Aurik Gustomo, S.T., M.T., menegaskan bahwa fakultas ekonomi dan bisnis di Indonesia harus mengambil peran lebih besar dalam merespons berbagai tantangan ekonomi nasional maupun global.

Dekan Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) itu menyebut perubahan iklim, perkembangan AI, dan dinamika geopolitik dunia sebagai persoalan yang harus menjadi perhatian serius kalangan akademisi.

Menurut Aurik, perubahan iklim dan tuntutan keberlanjutan tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman. Jika dikelola dengan inovasi dan pendekatan bisnis yang tepat, persoalan tersebut justru dapat membuka peluang ekonomi baru, seperti pengolahan limbah menjadi energi, penguatan ketahanan pangan, dan perdagangan karbon.

Ia juga mengingatkan agar perguruan tinggi tidak sekadar menjadikan AI sebagai alat untuk mendelegasikan pekerjaan. Sebaliknya, fakultas ekonomi dan bisnis harus berada di barisan terdepan dalam mengadopsi dan mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam proses pembelajaran maupun penelitian.

Aurik menilai Indonesia memiliki potensi besar menjadi laboratorium hidup (living laboratory) bagi pengembangan ilmu ekonomi dan manajemen. Jumlah penduduk yang besar, keragaman budaya, serta berbagai program strategis pemerintah, termasuk hilirisasi industri, merupakan sumber pembelajaran sekaligus peluang melahirkan teori dan model bisnis baru.

Karena itu, AFEBI perlu memperluas orientasinya. Jika selama periode 2013–2025 organisasi lebih banyak berfokus pada peningkatan mutu pendidikan fakultas ekonomi dan bisnis (looking inward), kini saatnya bergerak memberikan kontribusi lebih luas bagi pengembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu langkah konkretnya diwujudkan melalui program AFEBI Berdampak yang ditandai dengan peluncuran AFEBI Research Institute.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia Pelaksana Kongres AFEBI XIV, Prof. Dr. M. Syukri Albani Nasution, M.A. melaporkan, bahwa rangkaian kongres berlangsung selama empat hari, mulai 4 hingga 7 November 2026.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UINSU Medan itu menjelaskan, kegiatan diawali dengan sidang dan rapat organisasi pada Rabu (4/11/2026).
Selanjutnya, pada Kamis (5/11/2026), agenda kongres diisi dengan sejumlah forum akademik dan diskusi paralel yang mengangkat isu strategis pengembangan pendidikan ekonomi dan bisnis.

Rangkaian kegiatan pada Kamis malam dilanjutkan dengan gala dinner bersama Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumatera Utara.
Sementara itu, pada Jumat (6/11/2026), para peserta kongres dijadwalkan melakukan kunjungan ke kawasan Danau Toba sebagai bagian dari agenda pengenalan potensi wisata dan budaya Sumatera Utara.

Syukri menyampaikan terima kasih kepada Dewan Pengurus Nasional AFEBI yang telah memberikan kepercayaan kepada FEBI UINSU Medan sebagai tuan rumah sekaligus pelaksana kongres tahun ini.

Kongres diikuti 262 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan pelaksanaan sebelumnya yang diikuti 241 peserta.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Deputi Bidang Kelembagaan dan Digitalisasi Koperasi Kementerian Koperasi RI, Henra Saragih, yang mewakili Menteri Koperasi; Staf Ahli Gubernur Sumatera Utara Bidang Pendidikan, Kesehatan, Infrastruktur, dan Pemberdayaan Masyarakat, Ir. Alfi Syahriza; Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dr. Ferry Irawan; Direktur Eksekutif Kadin Indonesia, Pipin Moh. Saeful Arifin; Ketua Kadin Sumut, Firsal Ferial Mutyara; Ketua Dewan Eksekutif LAMEMBA, Prof. Dr. Ina Primiana; serta Ketua AFEBI Research Institute, Prof. Irfan Syauqi Beik.

Hadir pula perwakilan AACSB International, para pimpinan UINSU, pengurus AFEBI, serta para dekan fakultas ekonomi dan bisnis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. (SC08)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *