Medan – Sembilan Fellow Ashoka dari berbagai daerah di Indonesia berbagi pengalaman dan inspirasi tentang gerakan perubahan sosial dalam Kuliah Umum dan Dialog Changemaker bertajuk “Future of Leadership: Mengapa Setiap Mahasiswa Perlu Menjadi Changemaker” di Universitas Satya Terra (ST) Bhinneka, Jalan PDAM Tirtanadi, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Senin (19/10).
Kegiatan hasil kolaborasi Universitas ST Bhinneka dengan jaringan kewirausahaan sosial global Ashoka ini diikuti sekitar 200 lebih mahasiswa dan dosen. Melalui dialog tersebut, para mahasiswa diajak memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal jabatan, melainkan keberanian menghadirkan solusi dan dampak positif bagi masyarakat. Sembilan Fellow Ashoka yang hadir memiliki rekam jejak dalam memperjuangkan berbagai persoalan sosial, mulai dari pemberdayaan perempuan, pendidikan, literasi digital, perdamaian, hingga pelestarian lingkungan.
Pendiri Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) sekaligus Fellow Ashoka 1989, dr. Sofyan Tan, menegaskan bahwa perguruan tinggi harus mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga memiliki kepedulian dan keberanian untuk menciptakan perubahan sosial. Ia menambahkan, Universitas ST Bhinneka dibangun dengan misi sosial, bukan semata-mata untuk mengomersialkan pendidikan. Dengan sembilan program studi yang berorientasi pada ketahanan pangan, sektor agraris, dan pendidikan inklusif, kampus ini diharapkan mampu menghasilkan solusi bagi berbagai tantangan bangsa.
“Kita ingin menjadikan Universitas Satya Terra Bhinneka sebagai lembaga yang memproduksi solusi pangan dan pendidikan berkualitas. Negara kita adalah negara agraris. Sungguh miris jika sepanjang tahun kita masih harus mengimpor beras, sayur, dan buah-buahan,” ujar Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan itu.
Menurut Sofyan Tan, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari kemegahan bangunan, tetapi juga dari kualitas lulusan dan dampak sosial yang mereka hasilkan.
“Setiap orang lahir dengan potensi untuk berubah. Namun, perubahan sejati adalah perubahan yang memberikan manfaat dan dampak positif bagi orang lain di sekitarnya, masyarakat, bahkan dunia. Kami ingin melahirkan leader changemakers yang mampu membawa perubahan sosial yang dahsyat dalam sepuluh hingga tiga puluh tahun mendatang,” tegasnya.
Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara sekaligus pendiri Perkumpulan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) dan Fellow Ashoka 2007, Nani Zulminarni, mengapresiasi kolaborasi yang mempertemukan para penggerak perubahan dengan mahasiswa secara langsung.
“Jika CEO dan Pendiri Ashoka, Bill Drayton, berdiri di sini hari ini, beliau pasti sangat bangga sekali,” ungkap Nani.
Ia menjelaskan, Ashoka didirikan Bill Drayton sekitar 45 tahun lalu setelah terinspirasi oleh orang-orang yang bekerja tanpa lelah menyelesaikan persoalan sosial dan kemanusiaan. Dari semangat itulah berkembang konsep social entrepreneurship atau kewirausahaan sosial.
Saat ini, Ashoka memiliki sekitar 4.000 Fellow di 100 negara, termasuk 215 Fellow di Indonesia. Para Fellow dipilih berdasarkan sejumlah kriteria, antara lain kebaruan gagasan, dampak sosial, potensi replikasi, serta integritas moral.
“Dunia semakin kompleks, tidak cukup hanya mengandalkan para Fellow Ashoka. Karena itu, Ashoka mencanangkan gerakan global Everyone a Changemaker agar setiap orang, termasuk mahasiswa, memiliki kemampuan menjadi pembuat perubahan di lingkungannya,” jelas Nani.
Ia berharap dialog tersebut mendorong Universitas ST Bhinneka menjadi pelopor dalam menumbuhkan budaya kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan sosial, sekaligus mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan Indonesia Emas 2045.
Dalam kesempatan itu, masing-masing Fellow Ashoka yang hadir memperkenalkan kiprah dan pengalamannya sebagai penggerak perubahan. Dimulai dari Septiaji Nugroho, pendiri Masyarakat Antifitnah Indonesia (MAFINDO) yang terpilih sebagai Fellow Ashoka 2022. Ia berhasil menggerakkan masyarakat melawan hoaks dan disinformasi melalui edukasi literasi digital serta gerakan pemeriksaan fakta.
Kemudian dilanjutkan Dinny Jusuf, pendiri Toraja Melo penerima Fellow Ashoka 2018. Kiprahnya memberdayakan perempuan perajin tenun Toraja dengan membuka akses pasar dan peluang ekonomi agar tradisi lokal menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Lalu penerima Fellow Ashoka 1991 Sri Wahyaningsih, pendiri Sanggar Anak Alam (SALAM). Ia telah mengembangkan praktik pendidikan alternatif yang menempatkan anak sebagai subjek pembelajaran melalui pengalaman nyata, eksplorasi, dan potensi diri.
Selanjutnya Fellow Ashoka 2017, Irfan Amali, pendiri Peace Generation yang mengembangkan pendidikan perdamaian melalui pendekatan kreatif untuk menanamkan nilai toleransi, antikekerasan, dan penyelesaian konflik kepada generasi muda. Kemudian penerima Fellow Ashoka 1993, Dina Lumbantobing, pendiri PESADA yang memperjuangkan hak-hak perempuan serta pemberdayaan kelompok masyarakat yang rentan terhadap diskriminasi, termasuk perempuan dari komunitas adat Pakpak.
Panut Hadisiswoyo, pendiri Orangutan Information Centre (OIC) yang juga Fellow Ashoka 2013, menggerakkan upaya konservasi orangutan Sumatra melalui perlindungan habitat, restorasi hutan, serta pelibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem. Lalu terakhir Paris Sembiring, pendiri Bank Pohon, penerima Fellow Ashoka 2012, yang telah mengembangkan gerakan penghijauan dan penanaman pohon sebagai upaya mendorong kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan.
Turut hadir Anggota Dewan Pembina YPSIM Felix Iskandar Harjatanaya, B.Sc. (Hons), M.Sc., Ketua Yayasan YPSIM Finche Kosmanto, S.E., M.Psi., serta Rektor Universitas ST Bhinneka Bobby Christian Halim. Kegiatan ditutup dengan dialog interaktif antara mahasiswa dan para Ashoka Fellow mengenai pengalaman, tantangan, serta peluang menciptakan perubahan nyata di tengah masyarakat. (SC02)













![[Foto 9] Gareng, bersama putrinya Endang Nilowati, dan istrinya mendengarkan laporan persiapan pernikahan dari para dungik](https://sumutcyber.com/wp-content/uploads/2026/10/Foto-9-Gareng-bersama-putrinya-Endang-Nilowati-dan-istrinya-mendengarkan-laporan-persiapan-pernikahan-dari-para-dungik-90x90.jpg)






















