Medan – Stigma negatif masih menjadi salah satu hambatan bagi masyarakat untuk mencari pertolongan ketika mengalami masalah kesehatan mental. Tak sedikit orang yang memilih menyembunyikan kondisinya karena takut diejek, dipermalukan, atau dianggap kurang beriman jika berobat ke psikiater.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr. Vita Camelia, MKed (KJ), Sp.KJ (K), mengatakan, kepedulian masyarakat terhadap kesehatan mental mulai meningkat. Sebagian orang telah berinisiatif mencari pertolongan, tetapi sebagian lainnya masih enggan mengungkapkan kondisi yang dialami akibat stigma di lingkungan sekitarnya.
“Kalau berobat ke psikiater dibilang gila, kurang iman,” kata Vita Camelia, Jumat (9/10/2026), menanggapi Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober 2026.
Menurutnya, stigma tersebut dapat membuat seseorang menunda atau menghindari pengobatan. Akibatnya, masalah kesehatan mental yang dialami berisiko semakin berat dan mulai mengganggu berbagai aspek kehidupan.
Gangguan tersebut dapat terlihat dari menurunnya produktivitas, terganggunya kinerja atau tugas sehari-hari, hingga kesulitan bersosialisasi. Seseorang juga bisa mulai menarik diri dari lingkungan dan kehilangan minat untuk melakukan kegiatan yang sebelumnya disukai.
Kondisi yang semakin berat dikhawatirkan dapat membuat seseorang merasa putus asa, bahkan memunculkan pikiran untuk mengakhiri hidup.
“Jika terus dibiarkan, kondisi masalah mental menjadi semakin berat, orang tadi bisa terganggu produktivitasnya, terganggu kinerja, bersosialisasi, dan rekreasi dan hobinya, yang kita khawatirkan bisa membuat seseorang bisa putus asa, bahkan ide mengakhiri hidup,” ungkapnya.
Vita menjelaskan, stres dan tekanan hidup merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Namun, seseorang perlu memperhatikan ketika tekanan yang dihadapi mulai menghambat kemampuan untuk bangkit, beradaptasi, menyelesaikan masalah, dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Kita gak bisa lepas dari stres atau tekanan hidup, tapi ketika itu datang kita masih bisa bangkit dan meyelesaikan atau beradaptasi dan masih mampu beraktivitas penuh,” imbuhnya.
Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa mencari pertolongan profesional ketika mengalami masalah kesehatan mental bukanlah sesuatu yang memalukan. Dukungan lingkungan yang tidak menghakimi juga penting agar seseorang merasa aman untuk bercerita dan memperoleh bantuan yang dibutuhkan.
Hal tersebut sejalan dengan tema Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day 2026, yakni “Lived Experiences, Heard Real Voices, Real Change” yang menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman hidup, suara, dan kebutuhan orang-orang yang mengalami masalah kesehatan jiwa.
Dalam keterangannya, Vita menyampaikan, pembahasan kesehatan jiwa selama ini kerap didominasi perspektif profesional, pendekatan klinis, hasil penelitian, dan kebijakan institusi. Seluruh aspek tersebut penting, tetapi pengalaman langsung orang yang mengalami masalah kesehatan jiwa, keluarga yang mendampingi, serta para penyintas juga harus mendapat perhatian.
Di balik setiap diagnosis, terdapat individu dengan pengalaman, harapan, perjuangan, dan potensi untuk berkembang. Demikian pula keluarga yang mendampingi, yang menjalani proses panjang dan kerap luput dari perhatian.
Menurutnya, tema tahun ini mengajak masyarakat untuk tidak hanya membicarakan orang dengan masalah kesehatan jiwa, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan pengalaman dan kebutuhan mereka sendiri.
Mendengarkan, lanjutnya, bukan sekadar memberikan kesempatan untuk berbicara, melainkan juga memahami pengalaman tersebut dan menjadikannya sebagai pertimbangan dalam memperbaiki pelayanan serta kebijakan kesehatan jiwa.
Vita menegaskan, stigma, diskriminasi, keterbatasan akses pelayanan, dan kurangnya pemahaman masyarakat masih menjadi tantangan dalam meningkatkan kesehatan jiwa. Tidak sedikit individu maupun keluarga yang memilih diam karena takut dinilai, disalahpahami, atau dikucilkan.
“Oleh sebab itu, upaya membangun masyarakat yang lebih peduli terhadap kesehatan jiwa perlu dimulai dengan menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan tidak menghakimi, sehingga setiap orang dapat mencari pertolongan tanpa takut mendapatkan stigma,” tutupnya. (SC03)













![[Foto 9] Gareng, bersama putrinya Endang Nilowati, dan istrinya mendengarkan laporan persiapan pernikahan dari para dungik](https://sumutcyber.com/wp-content/uploads/2026/10/Foto-9-Gareng-bersama-putrinya-Endang-Nilowati-dan-istrinya-mendengarkan-laporan-persiapan-pernikahan-dari-para-dungik-90x90.jpg)






















