Jakarta – Bencana hidrometeorologi basah dan kering serta geologi masih terus melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan, Abdul Muhari, Ph.D., mengungkapkan sejumlah kejadian dan penanganan bencana yang terjadi pada Jumat (4/7/2025) hingga Sabtu (5/7/2025).
Di Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggara, banjir menerjang 11 desa di lima kecamatan akibat hujan berintensitas tinggi yang terjadi pada Jumat (4/7/2025). Sebanyak 620 KK atau 3.073 jiwa terdampak bencana ini. Selain itu, tercatat 620 unit rumah terdampak, dua titik akses transportasi terputus, empat unit talud rusak, serta empat titik bangunan pengaman pantai mengalami kerusakan. Sebagian wilayah sudah mulai surut, namun di beberapa lokasi air masih menggenang dengan volume menurun.
Banjir juga melanda Desa Puspasari, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada hari yang sama. Sebanyak 45 KK atau 180 jiwa terdampak, namun tidak ada korban jiwa dilaporkan. Warga setempat bergotong royong membersihkan material lumpur dan sampah sisa banjir.
Masih di Kabupaten Bogor, banjir sebelumnya melanda tiga desa di Kecamatan Bojonggede dan Citeureup pada Kamis (3/7). Bencana ini menyebabkan 283 KK atau 1.154 jiwa terdampak, satu rumah mengalami rusak sedang, dan satu keluarga mengungsi ke rumah kerabat.
Sementara itu, di Kabupaten Manokwari, Papua Barat, banjir menggenangi satu desa di Kecamatan Manokwari Selatan sejak Rabu (2/7) pukul 17.45 WIT. Sebanyak 57 KK atau 215 jiwa terdampak. Ketinggian air yang semula 100 cm mulai surut menjadi 50 cm pada Jumat (4/7), meskipun hujan masih terus mengguyur wilayah tersebut.
Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Desa Muzoi, Kecamatan Lahewa Timur, Kabupaten Nias Utara, Sumatra Utara, sejak Rabu (2/7). Sebagian titik api telah berhasil dipadamkan, namun hingga Jumat (4/7) masih banyak titik api yang aktif. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 10 hektar.
Menanggapi berbagai kejadian tersebut, Abdul Muhari menyampaikan imbauan agar masyarakat dan pemerintah daerah terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya hidrometeorologi dan geologi.
“BNPB terus memberikan dukungan seperti operasi modifikasi cuaca dalam upaya pengendalian karhutla. Pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan menangani api yang sudah meluas,” ujar Abdul Muhari.
Ia juga menekankan pentingnya memonitor prakiraan cuaca dan kondisi struktur tanah, serta memperhatikan informasi resmi dari pihak berwenang terkait peringatan dini bencana. Untuk bahaya geologi seperti gempa dan erupsi gunung api, Abdul mengingatkan bahwa kewaspadaan harus terus dijaga karena kejadian tersebut dapat terjadi sewaktu-waktu.
BNPB mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk sektor pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan komunitas (pentaheliks) untuk bersinergi dalam membangun budaya sadar bencana demi menciptakan resiliensi berkelanjutan. (SC03)













![[Foto 9] Gareng, bersama putrinya Endang Nilowati, dan istrinya mendengarkan laporan persiapan pernikahan dari para dungik](https://sumutcyber.com/wp-content/uploads/2026/10/Foto-9-Gareng-bersama-putrinya-Endang-Nilowati-dan-istrinya-mendengarkan-laporan-persiapan-pernikahan-dari-para-dungik-90x90.jpg)






















