Menu

Pemotongan Pohon Jl. Katamso Jadi Pro-Kontra

  Dibaca : 44 kali
Pemotongan Pohon Jl. Katamso Jadi Pro-Kontra
Sebagian pohon yang  ranting cabang, dan sebagian batangnya  di potong Pemko di Jl.Katamso (Sumutcyber/TC)

MEDAN (Sumutcyber): Pemotongan sebagian batang, cabang dan ranting pohon yang dilakukan Pemko Medan seminggu belakangan di Jl.Brigjen Katamso dan Ringroad mendapat tanggapan beragam dari masyarakat, ada yang pro dan kontra.

Pantauan Sumutcyber, Kamis (6/12) sepanjang kedua jalan itu, ada ratusan pohon yang  seluruh ranting, cabang dan sebagian batangnya di potong, oleh petugas Dinas Kebersihan Dan Pertamanan. Akibatnya, cahaya matahari terik begitu terasa saat melintas jalan tersebut.

“Apakah memang harus dipotong semua hingga tidak menyisakan ranting dan cabang yang  besar? Kalau seperti ini pengendara yang melintas akan kepanasan?” ujar Ardiansyah pengendara yang sering melintas di Jl. Katamso .

Ardiansyah menilai langkah Pemko memotong pohon terkesan terburu-buru menjelang akhir tahun. Pasalnya langsung dilakukan secara serempak, hingga suasana di Jl.Katamso tampak gersang.

“Sebab sejak beberapa waktu lalu banyak kejadian pohon tumbang di tempat ini, tapi enggan melakukan pemotongan seperti sekarang ini, banyak yang dibiar-biarkan  pohon di sekitar tempat itu rantingnya hampir patah,” ucap Ardiansyah .

Walau begitu, banyak juga masyarakat yang mendukung langkah Pemko melakukan pemotongan ranting dan cabang  besar pohon di sepanjang Jl.Katamso itu. Lantaran seminggu belakangan ini Medan terus dilanda hujan dan angin kencang.

Salah satunya Dana Nasution, pengendara lainnya yang sering melihat tempat itu. “Saya mendukung upaya ini, lantaran pohon di jalan ini, ranting dan cabangnya  rawan tumbang dan kerap memakan korban,” ungkap Dana Nasution pengendara lain .

Dana berharap setelah pemotongan ranting  dan sebagian batang pohon ini, Pemko lebih intens merawat  pohon-pohon yang ada di kota Medan, sebab pohon sangat penting bagi kehidupan di kota Medan.

Tidak Layak

Sementara itu,.Pengamat Lingkungan dari Universitas Sumatera Utara (USU) Jaya Arjuna menilai pohon yang berada di Brigjend Katamso memang tidak layak untuk pohon peneduh, karena jenis pohonya mudah patah.

“Saya tidak tahu entah teori  dari mana,  mereka (Pemko)  tetap menggunakan pohon itu. Menurut saya pohon di sekitaran tempat itu harus di ganti dengan pohon yang baru,” tandasnya.

Menurut Jaya Arjuna, pohon yang baik sebagai peneduh adalah pohon yang rantingnya tidak mudah patah, misalnya pohon mahoni, asam jawa  atau bunga tanjung.

“Ini saya juga tidak mengerti, mengapa semua ranting pohon ditempat itu dipotong sampai  habis. Apakah untuk pertumbuhan ranting yang baru ? Atau bagaimana ? Sebab pohon dijalan itu memang tidak layak sebagai pohon peneduh. Harus diganti dengan pohon yang rantinganya tidak mudah patah,” pesan Jaya Arjuna (TC)

Facebook Comments
Editor:
KOMENTAR

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional