BI Rate Tetap 6,5 Persen, Naik Enam Bulan Lagi
Share:

Sabtu, 6 Februari 2010 | 14:15:05
Jakarta, Sumutcyber- Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia kemarin memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5 persen. Dengan keputusan itu, bank sentral sudah mempertahankan BI Rate ke enam kalinya BI sepertinya memang mendesain tingkat suku bunga acuan atau BI rate untuk mengakomodasi tingkat inflasi. Buktinya, saat inflasi melandai di akhir 2009, BI tetap mematok BI rate di level 6,5 persen. Dan saat Januari lalu inflasi naik signifikan, BI rate tetap dipatok di level 6,5 persen.

Keputusan kemarin juga diambil setelah mempertimbangkan bahwa tingkat BI Rate tersebut dipandang masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi tahun 2010 sebesar 5 persen plus minus 1 persen. “Ini (level inflasi, Red) juga masih kondusif bagi upaya untuk memperkuat proses pemulihan perekonomian, menjaga stabilitas keuangan, dan mendorong intermediasi perbankan,” ujar Kepala Biro Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Difi A. Johansyah.

Keputusan BI ini sesuai juga dengan hasil survei Bloomberg terhadap 23 ekonom. Semua responden Bloomberg itu memperkirakan bank sentral tak akan mengubah bunga acuan hingga enam bulan mendatang. Dua belas dari 17 analis juga memprediksi BI baru akan menaikkan BI rate pada akhir Juni 2010.

Para pembuat kebijakan di seluruh Asia mengambil langkah-langkah untuk menarik rangsangan moneter untuk mempercepat pemulihan eknomi. Namun, menurut Eric Alexander Sugandi, ekonom Standard Chartered, meskipun harga konsumen naik dalam laju tercepat sejak Mei, bank sentral tetap menjaga tingkat suku bunga dalam beberapa bulan ke depan untuk melindungi pertumbuhan. “Setelah itu, bank sentral harus meningkatkan bunga acuan untuk meredam inflasi yang berasal dari kenaikan harga energi global,” kata Sugandi. Laji inflasi bisa lebih dari 5 persen pada Mei mendatang dengan adanya kenaikan harga minyak
Menurut Difi, Dewan Gubernur BI meyakini bahwa perbaikan kondisi perekonomian domestik terus berlangsung sebagaimana yang diperkirakan, sejalan dengan pemulihan ekonomi global yang semakin kuat. “Perkiraan terkini menunjukkan pertumbuhan ekonomi global pada 2010 dan 2011 akan lebih tinggi,” katanya.

Pemulihan ekonomi global tetap dimotori oleh negara Asia, terutama Tiongkok yang terus menunjukkan perkembangan membaik, meskipun pasar keuangan sempat diwarnai oleh sentimen negatif terkait kebijakan pengetatan kredit di Tiongkok. Sementara di negara maju, proses pemulihan ekonomi berlangsung dengan laju yang lebih moderat.

Adapun di sisi domestik, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih tinggi didukung oleh konsumsi yang masih tumbuh cukup tinggi sejalan dengan perbaikan daya beli dan tingkat keyakinan konsumen. Ekspor menunjukkan kecenderungan meningkat sejalan dengan pemulihan ekonomi global yang semakin kuat. Demikian pula surplus neraca pembayaran diperkirakan akan lebih tinggi, didukung oleh surplus pada transaksi berjalan yang relatif besar.

Arus modal luar negeri yang masuk ke perekonomian domestik juga relatif besar sejalan dengan kondisi fundamental perekonomian domestik yang cukup kuat dan meningkatnya rating Indonesia. Dengan perkembangan ini, cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2010 tercatat sebesar USD 69,6 miliar atau setara dengan 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Sementara itu, lanjut Difi, Dewan Gubernur menilai, di sisi harga, inflasi bulan Januari 2010 tercatat 0,84 persen (mtm) atau 3,72 persen (yoy). Tekanan inflasi terutama dipicu oleh kenaikan harga kelompok volatile food yang bersifat temporer, khususnya beras. “Ini diperkirakan akan semakin menurun sejalan dengan perkiraan panen raya di bulan-bulan yang akan datang,” katanya.

Perkembangan inflasi inti hanya mencatat sedikit kenaikan, terutama bersumber dari tren kenaikan harga komoditas internasional, sementara peningkatan di sisi permintaan masih dapat direspon sisi penawaran secara memadai. Ke depan, Dewan Gubernur meyakini bahwa tekanan inflasi belum akan muncul setidaknya sampai semester I-2010. Secara keseluruhan, inflasi 2010 diyakini masih sesuai dengan sasarannya sebesar 5 plus minus 1 persen.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan, lonjakan inflasi pada Januari yang didorong oleh harga pangan diperkirakan bersifat temporer. “Sebab, saat ini, sudah ada sinyal panen beras sudah mulai, nanti Maret akan bertambah lebih besar lagi. Selain itu, mudah-mudahan impor gula juga sudah mulai masuk, sehingga harga bisa turun,” ujarnya.(owi/kim/jpnn)


Tag: Bank Indonesiasuku bunga

Terkait:

Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
:
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 

 
Portal News
Jawa-Bali-Nusatenggara
Sumatera
Kalimantan

Sulawesi
Majalah